Kamis, 13 September 2012

Pengalaman mistis

Malem jumat seperti sekarang ini, biasanya adegan di OVJ temanya yg hantu-hantu gitu. Radio Ardan juga biasanya muter cerita-cerita hantu jam 10 malam nanti. Jadi mungkin ini saatnya saya juga cerita pengalaman-pengalaman mistis yang saya alami.

Tenang saja, saya jamin tidak akan menampilkan gambar hantu disini yang mungkin bisa bikin anda joget kaget sampai pagi.

Sebelum mulai, sedikit komentar yang ingin saya berikan. Entah mengapa saya tidak suka bila ada seseorang mengatakan "Hari gini mana ada hantu". Bagi saya pribadi, saya sangat percaya adanya hantu (makhluk gaib). Bahkan agama saya justru mewajibkan umatnya untuk percaya adanya makhluk-mahluk gaib. Namun, yang tidak boleh dilakukan adalah bergantung diri/meminta sesuatu pada mereka ataupun takut pada mereka. Karena hanya kepada Sang Pencipta kita memohon segala sesuatunya dan seharusnya kita hanya takut kepada-Nya saja.

Oke, saya akan mulai cerita-cerita mistis yang pernah saya alami.


  • Cerita pertama:

Saat itu kira-kira saya masih kelas 3 SD. Seperti biasa, sepulang sekolah saya selalu disuruh untuk tidur siang oleh orang tua. Saya tidur bersama ibu saya siang itu di kamar. Sekitar setengah 4 sore saya terbangun dari tidur. Biasanya saya langsung bergegas menuju ruang TV untuk menonton film-film kartun. Namun saat itu rasanya sangat malas sekali beranjak dari kasur.

Saya hanya terus berbaring dan mata saya memandangi seluruh isi kamar. Hingga akhirnya mata saya memandang ke arah pintu kamar yang terbuka. Tiba-tiba terlihat sesosok wanita yang sudah tidak asing bagi saya. Sosok itu adalah pembantu saya yang kerap saya panggil dengan panggilan "Mbak Pat". Tapi ada yang aneh dari sosok itu. Seluruh tubuhnya berwarna putih, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Sosok itu sedang menggenggam semacam sapu lantai namun seluruh badannya terlihat kaku (tidak menggerakkan batang sapu layaknya orang yang sedang menyapu lantai). Sosok itu lewat di depan pintu dari arah kanan menuju ke arah kiri dengan amat sangat perlahan, tapi ya itu tadi, seluruh badannya kaku, bahkan kakinya tidak melangkah sama sekali. Saya sempat sengaja mengedipkan mata beberapa kali untuk memastikan bahwa tidak ada yang salah dengan mata saya. Saya terus memandangi sosok itu hingga akhirnya tidak terlihat lagi karena terus bergerak ke arah kiri diluar pintu. Saat sosok itu tidak terlihat, saya baru menyadari bahwa apa yang saya lihat sepertinya ""bukan orang". Untuk memastikannya, sambil terus berbaring di kasur, saya memanggil-manggil "Mbak Pat.. Mbak Pat..". Tapi tidak ada respon.

Lalu saya bergegas lari ke arah pintu untuk lebih memastikannya dan benar saja apa yang saya duga. Tidak ada seorang pun di sana. Lalu saya pergi ke kamar pembantu dan mencari pembantu saya dan ia sedang berada di kamar sambil mendengarkan radio. Saya tanya apakah ia beberapa saat tadi sedang menyapu lantai di depan kamar atau tidak. Pembantu saya menjawab, "Tidak". Maka saat itu saya begitu yakin bahwa apa yang saya lihat tadi benar-benar "bukan manusia". Anehnya, saya sama sekali tidak ketakutan dan hari itu berlalu seperti hari-hari biasa.


  • Cerita kedua:
Saya juga masih SD saat itu, kira-kira kelas 4 SD. Sore itu saya bermain bulutangkis dengan tetangga saya yang seumuran dengan saya. Lapangan bulutangkis itu kira-kira ada di dekat halaman belakang rumah saya dan dekat dengan semak-semak dan ada beberapa pohon kelapa disana. Permainan begitu mengasyikan hingga saya lupa waktu. Waktu telah menunjukkan pukul 5 dan saat itu ibu dari teman saya telah memperingatkan untuk berhenti bermain karena sudah sore. Tapi namanya juga bocah, kalo dinasehati jarang didengerin, hehe. Saya terus bermain bulutangkis hingga menjelang maaghrib dan langit mulai gelap.


Karena sudah tidak nyaman main bulutangkis gelap-gelapan, akhirnya kami memutuskan untuk menyudahi permainan itu. Tapi kemudian saya melihat ada seorang laki-laki dewasa yang sedang memanjat pohon kelapa dengan sangat lambat. Seluruh tubuhnya juga berwarna putih. Sama seperti sebelumnya, saya mengedipkan mata beberapa kali untuk memastikan mata saya tidak salah lihat dan sosok itu masih terlihat memanjat pohon. Sosok itu tidak saya kenal namun saat itu yang terlintas di pikiran saya sosok itu pastilah ayah dari teman saya yang sedang memanjat pohon kelapa. Karena hanya saya dan teman saya yang tinggal disitu karena itu adalah komplek rumah dinas. Saya pun menoleh ke arah teman saya dan berkata "Hey, itu ayahmu sedang mengambil kelapa!". Teman saya dan saya secara bersama-sama kemudian menoleh ke arah pohon kelapa yang saya maksud namun tidak ada siapapun disitu. Saat itu teman saya ketakutan dan segera masuk ke rumahnya sedangkan saya hanya melongo bingung mengalami peristiwa tadi. Sama seperti sebelumnya saya tidak ketakutan sama sekali dan berjalan pulang menuju ke rumah seperti tidak terjadi apa-apa meskipun saya yakin sekali yang saya lihat tadi "bukan orang".


  • Cerita ketiga:
Saya saat itu kira-kira masih SMA kelas 1. Saat itu saya sedang berlibur di Semarang dan menjenguk kakak saya yang sedang kuliah disana. Kakak saya kuliah kedokteran sehingga rumah sakit Karyadi adalah kampusnya sehari-hari. Saat itu saya masih heboh-hebohnya dengan akses internet. Maklum, di tempat asal saya, inernetan di warnet hanya memiliki kecepatan rata-rata 1KB/s sehingga untuk membuka google saja diperlukan 5-10 menit. OMG !!!


Yup, di RS Karyadi ada beberapa hotspot yang tersedia contohnya di perpustakaan. Setelah menunggu kakak saya selesai kuliah, malam harinya saya dan kakak saya ke perpustakaan hanya untuk internetan dengan gratis. Namun entah mengapa internet disitu tidak jalan meskipun wi-fi telah tersambung. Karena bete, akhirnya saya dan kakak pergi dari situ. Tiba-tiba kakak saya menawari bahwa ada hotspot lagi yang sepi dan mungkin disitu tidak terlalu banyak orang. Karena tempat itu dekat dengan kamar mayat.

Hanya demi bisa internetan, saya oke-oke saja dan tidak ada perasaan takut sama sekali (yang penting bisa internet gratis Gan !). Tempatnya dekat dengan ruang rapat. Ruang rapat ada di lantai 2 sedangkan hotspotnya ada di lantai satu. Ada 2 tangga menuju ke pintu ruang rapat dilantai 2 tersebut dan pintu itu terlihat dari lantai 1. Awalnya hanya ada saya dan kakak saya saja. Sama seperti sebelumnya, disitu pun internet tidak mau jalan meskipun wi-fi sudah tersambung. Saya terus mencoba-coba dengan putus asa. Dan sejenak saya melihat ke arah pintu ruang rapat yang berada di lantai 2 tersebut.

Di atas pintu ada semacam jendela kecil yang memang bisa dibuka untuk ventilasi. Sama seperti yang ada di rumah saya. Hingga ada yang aneh dengan jendela ventilasi itu. Jendela itu tidak terkunci dan bergoyang-goyang dengan gerakan yang sangat aneh. Sama persis seperti bila ada seorang anak yang sedang bermain-main dengan jendela dan memainkan daun jendela. Gerakannya terkadang kencang, terkadang berhenti. Bahkan terkadang terlihat seperti dihentakkan dan seperti dihentikan dan ditutup kembali. Gerakannya begitu random. Saat itu tidak ada angin sama sekali. Saya berpikir mungkin itu terkena angin dari dalam ruangan, mungkin dari AC. Tapi di dalam ruangan itu terlihat gelap yang menandakan bahwa ruangan itu sedang tidak digunakan siapapun. Saya pun memanggil kakak saya sambil terus menatap jendela ventilasi itu dan menunjuk ke arah jendela itu agar kakak saya melihat apa yang saya lihat. Sontak kakak saya kaget dan bahkan takut untuk tidak melihat jendela ventilasi itu lagi. Tanpa perlu saya jelaskan, kakak saya tahu dengan sendirinya bahwa itu adalah hal yang "tidak normal". Kakak saya terus memandang laptop untuk mencoba mengalihkan perhatiannya sedangkan saya masih memandangi keanehan itu. Saya bertanya, "Itu ruang apa?"
Kakak saya menjawab "Itu ruang rapat". Saya bertanya lagi "Malam-malam begini apa mungkin ya ada yang sedang rapat?" . Kakak saya menjawab "Setahu saya tidak pernah ada rapat malam-malam begini di ruangan itu" . Saya bertanya " Apa bila ruangan itu tidak dipakai, ACnya tetap dinyalakan?". Kakak saya menjawab "Kayaknya sih enggak". Lagipula, kalau memang itu karena AC, mana mungkin gerakannya aneh seperti itu, memangnya hembusan ACnya sekencang apa. Dan bisa sampai membuat jendela itu bergerak begitu random. Bahkan kadang berhenti bergerak. Lalu saya tanya, "Apakah ruangan itu tertutup?". Kakak saya menjawab," Ya hanya pintu itu saja tempat keluar masuknya."

Detak jantung saya mulai bertambah cepat. Antara penasaran pengen naik dan takut. Saya merasa sepertinya gerakan itu sengaja dibuat untuk memanggil agar seseorang pergi ke atas sana. Namun kakak saya melarangnya dan mengajak saya pergi dari situ. Sebelum kami pergi, ada dua orang mahasiswa yang baru saja datang dan sepertinya juga sedang mencoba untuk internetan disitu. Saya berkata," Apa mereka sebaiknya diberi tahu mengenai apa yang terjadi diatas sana?". Kakak saya menjawab,"Sebaiknya tidak usah, ayo cepat pergi dari sini".

Saat saya pergi meninggalkan tempat itu, tampaknya kedua mahasiswa itu belum menyadari bahwa jendela ventilasi di lantai dua itu masih terus bergerak dengan anehnya.....


  • Cerita keempat:

Peristiwa ini terjadi di rumah saya sendiri, lebih tepatnya di kamar saya sendiri. Sebelumnya saya biasanya tidur dengan lampu tetap menyala. Namun beberapa hari belakangan itu saya iseng untuk tidur dengan lampu dimatikan. Meskipun menurut saya, tidak ada pengaruhnya sama sekali mau nyala ataupun mati lampunya. Ada kamar mandi di kamar tidur saya (kamar mandi dalam). Pintunya memang tidak bisa ditutup rapat karena tidak ada "kuning-kuning kecil" yang biasanya berada di bagian samping pintu. Satu-satunya cara untuk menutup rapat pintu itu hanya mengunci dengan kunci geser dari dalam kamar mandi. Meski tidak bisa ditutup rapat, tapi sebelum tidur saya menutup pintu itu hingga hampir rapat untuk mengurangi bau kamar mandi masuk ke kamar dan mengurangi kenyamanan saya. Lampu kamar mandi berada dalam posisi mati begitu juga dengan lampu kamar saya. Saya pun tidur. Ini adalah skematik sederhana mengenai tata ruangan di kamar saya:

Entah pada pukul berapa namun saya yakin itu masih larut malam, saya terbangun karena mendengar suara-suara dari kamar mandi. Saat saya membuka mata, di hadapan saya adalah lemari pakaian saya dengan cermin di depan lemari itu. Dari posisi saya berbaring, cermin itu tepat mengarah ke arah pintu kamar mandi. Disinilah keanehan dimulai. Saya melihat bahwa pintu kamar mandi saya terbuka dengan kondisi lampu menyala.

Saya pun dengan masih setengah sadar mencoba duduk di kasur dan berniat untuk menutup dan mematikan lampu kamar mandi karena saya pikir mungkin saja saya memang lupa mematikan lampu dan menutup pintu kamar mandi meskipun di dalam hati saya sudah yakin betul saya sudah melakukannya sebelum tidur. Tiba-tiba ada sosok berwarna hitam besar terlihat di dalam kamar mandi. Bayangan itu terlihat jelas melalui cermin  pada lemari di depan kasur saya itu. Saat itulah saya benar-benar ketakutan dan segera berbaring kembali sambil menutup mata. Tubuh ini rasanya benar-benar lemas ketakutan.

Dan itu belum selesai...

Sesaat kemudian saya mendengar langkah-langkah semakin mendekat hingga akhirnya langkah itu berhenti tepat disamping kasur saya. Jantung saya sudah berdegup kencang sekali. Tiba-tiba tubuh saya terasa seperti diinjak oleh kaki yang amat besar. Begitu kuatnya hingga tubuh saya terasa tertekan cukup dalam di kasur. Saat itu saya sama sekali tidak bisa bergerak dan mengucapkan sesuatu pun sama sekali tidak bisa. Dan saat itu, telinga saya mendengar suara denging yang amat sangat keras hingga membuat kepala sangat pusing. Hanya dalam hati saya bisa membaca semua surat-surat dalam Al-Quran yang saya hafal. Kondisi itu awalnya tidak membaik, bahkan saya sempat sampai tidak bisa bernafas karena begitu kuatnya "injakan kaki" pada tubuh saya. Sempat juga terbersit mungkin saya akan mati sehingga saya juga membaca kalimat syahadat dalam hati. Lama-kelamaan "injakan kaki" itu mulai melemah dan akhirnya saya sudah merasa tidak "diinjak" lagi. Tapi saya masih sangat ketakutan bahkan sangat takut untuk sekedar membuka mata karena saya takut melihat sosok itu lagi tepat dihadapanku. Ingin sekali rasanya menggapai sakelar lampu agar kamar saya jadi terang tapi takutnya malah megang yang enggak-enggak.

Hingga kira-kira setengah jam saya terus membaca doa sambil terus memejamkan mata. Setelah cukup lama, saya sedikit demi sedikit membuka mata untuk melihat keadaan sekitar. Saya melihat bahwa pintu kamar mandi saya sudah kembali berada dalam posisi hampir rapat dan lampu kamar mandi dalam kondisi mati. Saya segera meraih sakelar lampu untuk menyalakan lampu kamar. Saya segera menyalakan televisi untuk membuat suasana tidak sepi dan saya segera menyalakan lampu kamar mandi agar tidak gelap dan terkesan menyeramkan setelah peristiwa yang baru saja terjadi.

Hari-hari berikutnya, tidak pernah ada lagi sosok itu. Namun hampir setiap hari tiba-tiba tubuh saya tidak dapat digerakkan dan pada saat itu terjadi juga terdengar suara denging yang amat memekakkan telinga. Peristiwa itu terjadi berulang-ulang bahkan sampai saya terbiasa dan tidak takut lagi.

Satu bulan setelah itu, peritiwa itu tidak pernah saya alami lagi. Namun sekarang saya tidak berani lagi tidur sendirian dengan kondisi lampu mati di kamar saya. Dan ini adalah pengalaman terakhir sekaligus yang paling parah karena saya merasakan adanya kontak langsung dan saya yakin bahwa itu bukan mimpi.

Entah bagaimana peristiwa semacam ini dibuktikan, namun saya meyakini memang ada kehidupan lain yang gaib. Saya hanya mengganggap hal ini menjadi bukti nyata pada diri saya sendiri mengenai keberadaan mereka. Percaya tidak percaya, tapi semua ini benar-benar saya alami.
- We are not alone...... -

Reaksi:

3 komentar:

13308057 mengatakan...

Haha.. Mungkin Bung Rezi bisa menjelaskan..

Kalo gw, begitu mulai bunyi denging2 (belum sampe denging paling keras) coba mikirin sesuatu, jangan bengong pokoknya.. alhasil sejak saat itu ga pernah "ketindihan" lagi hehe..

Trus kalo fenomena anehnya siang hari, kayanya emang ga terlalu menakutkan.. Pengalaman gw pembantu juga di siang hari soalnya haha..

Riza Paramayudha mengatakan...

Perasaan sih gw ga bengong kalo pas ketindihan gitu, yang ada gw slalu berusaha gerakin tangan atau badan atau bahkan jari tapi ga bisa. Haha

Kalo gw baca di internet sih peristiwa ketindihan gitu biasanya disebabkan karena kita dalam posisi capek banget. Alhasil tubuh kita udah duluan masuk ke fase tidur, tapi otak kita masih sadar, makanya ngasih efek paralyzed gitu...

Iya, kalo yang siang hari emang ga serem, cuma ngasih efek heran aja..

13308057 mengatakan...

yoi kalo udah ketindihan mah ga bisa apa2 (semakin panik).. mau ngebuka mulut juga ga bisa kan, alhasil kaya dicerita di atas, cuma bisa ngomong dalem hati..

Iya, penjelasan yang gw percaya juga gitu sih yang paralyzed itu..

Kesimpulannya, hindari kecapean wkwkwk..

Poskan Komentar

Saya sangat mengharapkan kritik, saran, atau opini anda... Terima Kasih...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Premium Wordpress Themes