Kamis, 31 Mei 2012

Sembuh dari Phobia Social

Apakah anda memiliki phobia pada hal tertentu?

Saya akan menceritakan mengenai phobia yang saya miliki dan bagaimana saya sembuh dari phobia itu. Sebelumnya saya akan menceritakan gambaran diri saya. Dulu, saya termasuk orang yang pendiam, saya hanya mengobrol dengan orang yang memang saya kenal baik. Karena itu tidak aneh saat saya SMP & SMA, saya pada umumnya hanya mengenal orang-orang yang sekelas dengan saya. Bahkan untuk mengenal seluruh teman dalam 1 kelas, saya bisa membutuhkan waktu 6-9 bulan. Tidak aneh pula bagi saya ketika terkadang saya dibilang sombong. Tapi ada juga yang bilang saya justru cool saking pendiamnya, haha..

Tapi sebelum saya menceritakan mengenai ini, mungkin tidak banyak yang tahu mengapa saya begitu. Bahkan dulu saya juga tidak tahu mengapa diri saya sulit sekali untuk berkenalan dengan orang baru. Dan anehnya, saat SMA, setap kali ada tugas presentasi, saya benar-benar panik setengah mati! Padahal ibu guru cuma baru bilang kalau nanti di akhir semester ada presentasi, namun di awal semester saya sudah lemas membayangkannya. Perasaan saya benar-benar tidak enak dan tidak nyaman. Rasanya pengen pindah ke sekolah yang nggak pakai tugas presentasi. Dan tahukan anda? Dulu ketika saya presentasi, saya amat sangat panik sekali, keringat bercucuran, seluruh tubuh gemetaran, alhasil bahkan saya sampai tidak tahu apa yang sedang saya bicarakan karena mulut saya berbicara namun pikiran saya justru merasakan ketakutan yang amat sangat.

Dulu, waktu saya TK, saya itu percaya diri setengah mati, setiap ada lomba saya ikuti, begitu juga saat di sekolah dasar. Ketika tampil di depan umum, justru saya merasa senang dan bangga. Saya merasakan kalau terjadi sesuatu yang berbeda pada diri saya ketika kelas 5 SD. Saya tidak terlau ingat, tapi pokoknya saya disuruh maju ke depan (kalau tidak salah untuk menyanyikan lagu nasional). Dan itulah pertama kalinya saya ketakutan. Saat kelas 6 SD, saya diminta guru saya untuk memberikan sambutan pada saat pelepasan siswa angkatan saya sendiri, dan saat itupun saya merasakan begitu ketakutan saat berada di depan hadirin.

Entahlah, saya sendiri tidak tahu mengapa tiba-tiba saya seperti itu. Berawal dari situ, saya merasa semakin tidak percaya diri bila harus tampil dihadapan umum. Sehingga saya lebih memilih agar saya tidak mengundang perhatian orang lain. Saat SMP dan SMA, perasaan itu tetap ada di benak saya dan begitu mengganggu saya. Di satu sisi, sungguh sebenarnya saya ingin sekali memiliki banyak teman, namun ada perasaan yang sulit dijelaskan yang membuat saya lebih memilih untuk diam sehingga sulit sekali bagi saya untuk mengenal orang lain.

Saat kelas 3 SMA, ada tes presentasi menggunakan bahasa inggris di depan kelas, dan saya gagal sehingga saya disuruh untuk mengulang lagi setelah semua murid maju presentasi. Saya sudah menghafalkan mati-matian apa yang akan saya presentasikan, dan begitu berada di depan, semua kata-kata itu lenyap, menguap, dan yang ada dipikiran berubah menjadi ketakutan yang tidak jelas apa penyebabnya.

Perasaan takut itu begitu unik, tubuh, tangan, dan kaki saya gemetaran tanpa bisa saya kendalikan sedikitpun. Bahkan saya kurang mengerti dengan apa yang saya takutkan.

Ketika itu saya menceritakan masalah yang saya alami pada orang tua dan saya bilang bahwa saya ingin ikut hipnoterapi setelah melihat acara televisi yang dibawakan Romi Rafael. Romi Rafael mampu menghilangkan ketakutan seseorang dalam sekejab. Saya ingin sekali sembuh dari ketakutan ini karena saya berpikir bahwa nantinya ketika kuliah, tentu akan jauh lebih banyak presentasi-presentasi di depan kelas. Maka, orang tua saya mencari-cari hipnoterapis, dan akhirnya kami menemukan hipnoterapis yang ada di Semarang. Sebenarnya ia adalah dokter spesialis kejiwaan (psikeater) namun ia juga mendalami ilmu hipnotis untuk memberikan hipnoterapi pada pasiennya.

Ketika bertemu dengan dokter tersebut, saya dinyatakan menderita phobia social. Apa itu? 
Phobia social merupakan suatu bentuk ketakutan yang tidak masuk akal akan penghinaan publik atau malu. Orang dengan phobia social mungkin menghindari melakukan kegiatan di masyarakat misalnya berbicara di depan publik. Mereka merasa takut bila orang yang tidak mereka kenal itu menghakimi mereka dan menyebabkan kecemasan. Paling umum phobia social berkembang antara awal masa remaja sampai usia 25 tahun (Schneier et al., 1992).
Setelah mengetahui bahwa saya mengidap phobia social, saya meminta sang dokter untuk melakukan hipnoterapi. Namun, dalam waktu seminggu dari saat itu, saya akan pergi ke Bandung untuk mengikuti USM-2 ITB. Kemudian dokter itu menjelaskan, bahwa memang bisa saja ia menghipnotis saya saat itu dan menghilangkan phobia social saya saat itu juga, namun efek itu hanyalah bersifat sementara. Untuk menghilangkan phobia social di kemudian hari, tidak bisa hanya dilakukan dengan sekali terapi saja, karena memprogram ulang apa yang ada di batin bawah sadar tidak semudah membalik telapak tangan. Sehingga saya akan perlu  melakukan beberapa terapi. Karena tidak mungkin bila saya nantinya harus bolak-balik Bandung-Semarang untuk melakukan terapi, saya dirujuk pada kenalan dokter itu yang ada di Bandung. Ia juga seorang dokter kejiwaan yang juga mendalami hipnoterapi.

Setelah saya sampai Bandung, saya datang ke dokter yang dirujuk itu. Saya berharap saya akan dihipnotis dan dibuat tertidur karena dari dulu saya penasaran sekali ingin tahu rasanya dihipnotis sampai tertidur itu seperti apa. Tapi ternyata saya tidak dibuat tertidur. Saya hanya menceritakan masalah yang saya hadapi dan disuruh mencoba mengingat-ingat apa penyebab saya menjadi memiliki phobia social karena seperti yang telah saya jelaskan sebelumnya bahwa ketika saya kecil faktanya saya justru suka tampil di depan publik. Maka pasti ada suatu peristiwa yang mengubah saya. Entahlah saya tidak terlalu yakin sebenarnya, namun saya merasa bahwa penyebabnya adalah kakak saya sendiri. Ketika saya kecil dan saya tampil di depan publik, maka kakak saya justru berkali-kali mengatakan "Memangnya kamu tidak malu ya diliatin banyak orang?". Kata-kata itu selalu dilontarkan ketika saya akan tampil di depan publik. Menurut dokter itu, memang bisa saja hal itulah yang menjadi pemicunya. Meskipun tidak ada niat jahat dari kakak saya yang saat itu juga masih anak-anak, namun tanpa disadari hal itu memberikan semacam sugesti pada alam bawah sadar saya bahwa saya seharusnya malu untuk tampil di depan umum. Sugesti itu berkali-kali saya terima sehingga efeknya semakin menguat dan mengakibatkan saya seperti ini.

Yang sudah terjadi ya sudah, hal itu tidak dapat diubah. Namun yang sekarang harus dilakukan adalah bagaimana saya menanamkan kembali sugesti baru agar saya tidak malu lagi tampil di depan publik. Saya diajak memikirkan kembali apa yang sebenarnya saya takutkan. Saya diajak memikirkan apa yang membuat saya malu.
Dokter: Apakah penonton itu pernah mengolok-olok anda?
Saya: Sebenarnya tidak pernah ada orang yang mengolok-olok saya.
Dokter: Lalu mengapa takut untuk tampil di depan publik? Memangnya penonton itu mau menggigit anda?
Saya: Haha, tidak tentunya.
Dokter: Apakah anda memiliki perasaan takut gagal?
Saya: Hmm, sepertinya iya.
Dan rasa takut gagal inilah yang juga bisa meningkatkan phobia social yang saya alami. Memang benar saya ingin sekali bisa mempresentasikan sesuatu atau berbicara di depan umum tanpa sedikitpun melakukan kesalahan. Dan ketika saya ketakutan dan gemetaran, saya memandang bahwa saya telah melakukan kesalahan dan gagal.

Dokter itu berkata bahwa dalam hidup ini pasti semua orang pernah melakukan kesalahan. Memang tidak ada orang yang ingin berbuat kesalahan, namun kesalahan yang muncul itu sangat wajar dan terkadang tidak dapat diduga. Tidak perlu takut berlebihan bila berbuat salah. Orang lain pun juga begitu, pernah juga berbuat salah. Mereka tidak akan menghakimimu hanya karena kamu memiliki sedikit kesalahan.

Dan untuk menghilangkan phobia ini, sebenarnya kuncinya justru ada di dalam diri saya sendiri. Saya harus menghadapi ketakutan saya itu, dan ketika perasaan takut itu muncul, kembali tanyakan pada diri saya sendiri sebenarnya apa yang saya takutkan. Dan ketika selesai tampil di depan publik, coba rasakan bahwa kenyataannya saya bisa melalui itu karena memang nyatanya tampil di depan publik bukanlah suatu hal yang perlu ditakutkan. Ternyata presentasi itu tidak sebegitu menakutkan seperti apa yang saya cemaskan sebelumnya. Tidak ada orang yang mencaci, menghakimi, dan bahkan menggigit, haha. Coba merasakan ketika penonton bertepuk tangan setelah saya presentasi, itu artinya mereka begitu menghargai saya.

Ketika saya kuliah, saya disuruh ikut berbagai unit kegiatan, terserah unit apapun itu pokoknya suatu  bentuk organisasi, dan lebih sering untuk melakukan olahraga bersama dengan teman-teman karena hal itu mampu meningkatkan rasa percaya diri.

Sedikit demi sedikit, ketakutan saya mulai menghilang. Saya semakin percaya diri untuk tampil di depan publik. Saya kini mampu melakukan presentasi jauh lebih baik daripada sebelumnya. Sekarang saya lebih mudah mengenal seseorang yang baru saya temui. Kemarin, untuk pertama kalinya, saya melakukan interview di sebuah perusahaan, dan alhamdulillah saya dapat melalui interview itu dengan sangat lancar dan bahkan dengan perasaan yang amat senang.

Jadi kunci untuk menghilangkan phobia, adalah justru dengan berkali-kali menghadapi perasaan takut itu dan melawannya dengan pikiran-pikiran yang positif. Bila terus menghindar, maka perasaan takut itu justru akan semakin kuat. Namun dengan berkali-kali menghadapi ketakutan itu dan di dalam diri ada semangat yang besar untuk sembuh dari phobia itu, maka sedikit demi sedikit diri kita sendiri yang akan memberikan sugesti bahwa apa yang sangat ditakutkan selama ini ternyata tidak begitu menakutkan. Bahkan hal itu sebenarnya adalah hal yang menyenangkan. 

Karena itulah di televisi juga sering ditampilkan, misalnya ada orang yang phobia dengan jarum. Maka terapinya adalah justru dengan memperlihatkan jarum itu pada orang tersebut namun pertama pada jarak yang cukup jauh, pasti orang tersebut akan begitu ketakutan. Jarum itu ditutup kembali dengan kain, kemudian sang terapis akan memberikan pemikiran positif dan memberikan pemahaman baru. Setelah si pasien cukup tenang maka jarum itu diperlihatkan kembali dan jaraknya diperdekat. Tentu ia akan kembali gelisah dan ketakutan. Kemudian jarumnya ditutup lagi dan orang tersebut diberikan pemikiran-pemikiran positif lagi hingga ia cukup tenang. Kemudian jarum itu diperlihatkan kembali pada jarak yang lebih dekat lagi, dan begitu seterusnya hingga akhirnya jarum itu bisa ia pegang.

Sedikit info, awalnya saya merasa bahwa ketika saya terapi dengan dokter yang di Bandung itu saya tidak dihipnotis sama sekali karena saya tidak dibuat tidur. Setelah menonton acara Hitam Putih yang dibawakan Deddy Corbuzier, pernah ada satu terapi yang dilakukan pada Nycta Gina "Jeng Kelin" dimana ia sangat takut pada pocong. Semua orang mungkin memang takut dengan pocong karena pocong notabene adalah hantu, namun ketakutan yang dialami Nycta Gina terlalu berlebihan. Karena, meskipun pocongnya itu lucu, tetap saja Nycta Gina sangat ketakutan hingga ia melompat ke kursi penonton yang paling atas. Terapinya adalah dengan cara ia duduk di kursi, tanpa ditidurkan dan hanya diajak berbicara saja oleh si terapis. Dan sama seperti tadi, pocong itu berulang-ulang dimunculkan, dari jarak yang jauh hingga akhirnya hanya sekitar 1 meter dari Nycta Gina dan ia meskipun ia tetap merasa cemas namun ia tidak lari lagi, ia berhasil untuk tetap duduk dikursi itu. Nah, saya lupa ini hipnotis namanya apa. Konon katanya, Barrack Obama pun pernah melakukan terapi ini. Jadi, mungkin terapi inilah yang saya dapatkan ketika terapi dengan dokter yang ada di Bandung itu.

Btw, saya sama sekali tidak marah ataupun dendam dengan kakak saya. Justru saya sangat bersyukur  dan berterima kasih karena saya mendapat pelajaran yang begitu berharga dalam hidup ini. Dengan ini, suatu saat nanti, bila saya memiliki anak, maka akan saya jelaskan semua hal ini sebelum terlambat agar apa yang saya alami tidak dialami juga oleh mereka. Dan mungkin semua yang saya ceritakan ini juga bisa menjadi pelajaran bagi anda yang membacanya.
- Am I still cool now? -

Reaksi:

51 komentar:

Anonim mengatakan...

Thank infonya.

Riza Paramayudha mengatakan...

Sama-sama, semoga bermanfaat

Anonim mengatakan...

Mas riza trims utk infonya ya, sy jg mengalami fobia social tp bentuknya berbeda dan menurut sy akhir2 ini btambsh berat.info dokternya dimana ya?sy butuh terapi.sy sdh coba hipnoterapi baru1x tp bukan dokter. Ada info utk di jakarta?? Trims before..

Riza Paramayudha mengatakan...

Dokternya di Bandung. Wah, saya cari-cari kartu nama si dokter tapi ga ketemu-ketemu. Namanya dr. Arlisa (nama lengkapnya lupa), spesialis kejiwaan. Dulu saya berobat kepada beliau di Apotek Kimia Farma yang letaknya persis di perempatan antara Jalan Dago dengan Jalan Merdeka. Kalau tidak salah nomor telpon beliau: 0811226803. Maaf kalau untuk daerah Jakarta saya tidak tahu. Semoga membantu.

cutietiwie mengatakan...

sama kaya yang kau alami...aku jg pengidap fobia sosial...bahkan sejak kecil fobia tsb aku rasain..penyebabnya pernah ditertawakan oleh murid sekompleks sekolahan ketika pas jadi petugas upacara dulu...hiks,..dr situ aku seringkali ketakutan ketika disuruh berbicara didepan banyak orang..dan itu bertahan sampai detik ini!!pdhal sekarang sdh dewasa, dan sdh kerja,..duh bikin frustasi aja..sampai2 kepikiran kepngen resign ='(

Anonim mengatakan...

saya juga mengalami penyakit yang sama dengan mas.... bisa tolong saya diberitahu nama & alamat dokter hipnoterapi yang di semarang itu mas.... thx...

Hidayat mengatakan...

Wahhhh.... ternyata sama juga ya fobianya... Kebetulan kalau saya pribadi juga diikuti ketakutan/grogi berlebihan kalau berhadapan dg anak kecil (usia <10 tahun), ataupun sekedar menyebutkan nama sendiri... Syukurlah, akhirnya saya pun mulai sembuh juga setelah hampir 5 tahun terapi mandiri (metode terapi kognitif). Kebetulan penyebabnya adalah kultur lingkungan dan pola asuh keluarga... Proses terapi ada perkembangan signifikan ketika saya berusaha menjauh sementara dari kampung halaman, memaksa diri membuka interaksi di lingkungan dan orang2 yg benar2 baru, belajar dagang, dsb...

Riza Paramayudha mengatakan...

@cutietiwie : Apakah anda sudah pernah mencoba untuk berobat?

@Anonim : Kalo psikeater yang di Semarang namanya dokter Arya, namun beliau telah wafat karna kasus pembunuhan yang menimpa dirinya. (Kasian bener ini, saya sampe kaget baca beritanya di koran)

@Hidayat: Syukurlah kalau sekarang sudah mulai sembuh. Memang kuncinya kita justru harus menghadapi rasa takut itu. Lama kelamaan, kita akan menyadari bahwa berbicara di depan publik bukanlah sesuatu yang perlu ditakutkan. Justru menyenangkan lho bisa berbicara di depan publik.

Anonim mengatakan...

aku azmi dan lg proses jd org ekstrovert. bener banget lah bang itu kalimat terakhirnya .
sepemikiran banget, mulai dr skrg setelah saya
belajar psikologi nanti kalo punya anak saya
bakal didik bener dah biar jgn kyk dulu saya waktu kecil . pokonya ank saya harus pede yang bisa tampil d depan umum gitu .
you are still cool man! thanks cerita inspiratifnya .

Riza Paramayudha mengatakan...

Sama-sama Azmi...
Terima kasih juga sudah berkunjung ke blog saya...
Semoga bermanfaat..

irfan majid wardhana mengatakan...

SUmpah dAhhh ini mirip banget ama cerita hidup gw....gw jga pengidap social phobia skrg msh tambah parah

Hetty mengatakan...

Makasih banyak..infonya sangat membantuu...

Riza Paramayudha mengatakan...

@ Irfan : Wah, apakah anda sudah mencoba berobat?

@Hetty : Sama-sama, senang rasanya bila dapat membantu orang lain...

Anonim mengatakan...

kira2 biaya totalnya habis berapa ya mas ?

Anonim mengatakan...

sama dgnku juga,udh 10thn-an semenjak tau kl kena fobia sosial,tp baru berobat 4 thn,tp sampe skrg blm sembuh,walo ada sedikit ngebantu sih,kl psikiater yg di bdg yg bs hipnotis ada yg recommend ga yah ?
thx before ya

Riza Paramayudha mengatakan...

Kalau biaya saya juga sudah lupa habis berapa. Saya memang mendapat keringanan biaya dari dokter tersebut, dan kemudian biaya yang harus dikeluarkan mungkin bervariasi untuk setiap pasien karena tergantung cepat lambatnya kesembuhan. Seperti yang sudah saya jelaskan pada komentar saya sebelumnya, saya dulu berobat pada dokter Arlisa. Silahkan baca kembali komentar-komentar saya sebelumnya. Terima kasih.

sani kurnia mengatakan...

mungkin yang di acara hitamputih itu namanya NLP

Mundzir Within mengatakan...

Wah, saya juga kayaknya mengidap fobia sosial juga mas. Saya selalu ketakutan berada dikeramaian.

Anonim mengatakan...

di bdg agan berobatny ke psikiater siapa ya?
sy di bdg jg

thanks

Anonim mengatakan...

Apakah mas saat itu juga mengalami ketakutan berinteraksi dengan orang lain, ketakutan menghadapi orang lain face to face terutama yg kita kenal, dan ketidakmampuan kontak mata dgn orang lain saat berbicara? Saya mengalami itu dan belum sembuh.

Riza Paramayudha mengatakan...

@Sani : Iya betul, teknik yang diterapkan di acara hitam putih namanya NLP

@Mundzir Within : Kalo saya tidak takut di keramaian, tapi dulu kalau bebicara di depan orang merasa ketakutan.

@Anonim : Untuk dokternya, silahkan baca komentar saya sebelumnya, sudah saya tuliskan kok :)

@Anonim : Kalau untuk face to face dengan orang yang belum saya kenal, saya justru merasa tidak nyaman. Kalau face to face dengan orang yang sudah saya kenal justru enggak masalah. Tapi dulu saya sangat merasa tidak nyaman ketika berbicara di depan orang banyak. Alhamdulillah sekarang saya sudah merasa nyaman ketika berbicara di depan orang banyak.

SmartDevice mengatakan...

iya mas saya baru tau kalau ini social phobia tadi waktu liat acara shafaat di trans 7, ciri2nya sama persis apa yang saya alami,juga mas alami, saya pikir ini cuma masalah minder/malu (orang yang pemalu) gak kepikir ini masalah sikologis,, mungkin agak terlambat saya taunya , saya sekarang sudah lulus kuliah, dengan susah payah ,dan berbagai kisah ketakutan saya, dari zaman TK, SD, SMP, SMA, KULIAH, saya selalu mengalamu kecemasan luar biasa ketika berhadapan dengan orang , mengenal teman/ lingkungan baru,,,

saya pikir setelah selesai kuliah saya bisa sembuh, ternyata tambah parah, saya takut untuk cari kerja, takut untuk kerja, yang saya pikerkan bagai mana nanti interview, bagaimana nanti rapat, bagaimana nanti, persentasi, bagai mana nanti disuruh mimpin tim, komunikasi sama klien, bagaimana pergaulan di perusahaan dll, pokoknya banyak hal2 yang saya pikirkan.. sampai saya jadi pengangguran ,, saya tidak mau lagi seperti ini,, saya pingin rubah , insya allah, mas beruntung bisa tau lebih awal, jadi tidak menghambat karir mas,hehe...

btw saya harus banyak belajar dari mas ni, bagai mana menangani ketakutan, secara mandiri, terutama di kantor, karena saya sekarang sedang berjuang untuk menghadapi ketakutan ini, cukup sudah masa remaja saya seperti sia2 hilang, jangan karir saya pun hilang, dan menyesal waktu tua nanti, thx mas

Riza Paramayudha mengatakan...

@SmartDevice: Jangan pernah berpikir sudah terlambat , yang penting sekarang sudah tau dan secepat mungkin berusaha untuk sembuh. Memang dibutuhkan effort yang cukup besar untuk menyembuhkan fobia, namun selama memiliki tekad yang kuat saya yakin pasti bisa.

Cobalah untuk selalu memiliki keinginan keluar dari zona nyaman dan melakukannya, lama kelamaan anda akan terbiasa dengan paparan tersebut dan menyadari ternyata berkenalan dengan orang baru itu menyenangkan karena banyak hal baru yang bisa diperoleh. Dan juga menjadi pusat perhatian juga menyenangkan karena merasa menjadi orang penting disana. Semua kecemasan yang ada akan tergantikan dengan rasa bangga dalam diri anda.

Saya yakin anda pasti bisa sembuh!
Tetap semangat !

Anonim mengatakan...

minta nomor hp nya mas, mau taya soal hipnoterapi yg mas lakukan?

Riza Paramayudha mengatakan...

Maaf tapi ada baiknya anda memperkenalkan terlebih dahulu siapa anda, baru
kemudian saya dapat memberikan nomor hape. Atau anda dapat chatting via BBM dengan saya, PIN : 75436CB3. Bila memang ingin komunikasi, mohon di luar jam kerja.

Novi mengatakan...

Persis sekali seperti yang saya alami, saya jg fobia sosial tapi saya tidak pernah cerita ke ortu, dan keluarga saya bukan kalangan mampu untuk konsultasi itu.saya harus bagaimana??:''. Saya frustasi

Riza Paramayudha mengatakan...

Sebenarnya yg menyembuhkan adalah diri kita sendiri, dan psikeater hanyalah orang yg mengarahkan kita untuk sembuh. Kuncinya, untuk sembuh kita justru harus menghadapi apa yg kita takuti, mulai dr paparan ringan hingga semakin berat. Selalu yakin dapat sembuh. Dan gunakan logika ketika ketakutan itu menyergap misalkan : "Mengapa saya harus takut bicara di depan orang2? Toh mereka tidak menggigit atau menyakiti saya."
Saya coba bantu carikan informasi ya, siapa tau ada psikeater yg bisa memberikan jasa konsultasi dengan biaya yg terjangkau.

Novi mengatakan...

Terimakasih ya kak,kakak mau bantu saya, saya tinggal di jakarta. Sebentar lagi saya harus sekolah dan ada tugas magang sbg pembina pramuka, saya semakin takut.

Riza Paramayudha mengatakan...

Sama-sama Novi..
Saya memang tidak bisa menjanjikan bisa menemukan psikeater (kalau bisa psikeater yang juga mendalami teknik hipnotis NLP) yang dapat memberikan jasanya dengan terjangkau, namun saya akan berusaha untuk membantu mencarinya terutama yang berada di daerah Jakarta.

Ada tugas magang sebagai pembina pramuka? Wah itu justru bisa menjadi salah satu terapi untuk mengatasi fobia sosial anda. Yang paling penting jangan pernah menghindari kesempatan itu, bila memang ingin sembuh maka jalanilah dan lawanlah rasa takut itu. Kesalahan yang fatal adalah justru menghindari kondisi tidak nyaman yang akhirnya justru dapat meningkatkan rasa fobia itu sendiri. Selamat berjuang Novi! Saya yakin anda pasti bisa melakukannya!

Novi mengatakan...

Iya terimakasih, saya pasti akan berjuang:)
Tapi yg saya khawatirkan adalah harus bekerja sbg tim, dan teman2 saya adalah orang yg humoris sedangkan saya tidak, kadang ada yg menyindir secara tidak langsung, tapi apa daya karakter saya memang pendiam dan tidak humoris, apakah sindiran orang2 ini yang membuat saya fobia?

Riza Paramayudha mengatakan...

Memang bisa saja penyebab fobia social anda disebabkan karena sindiran2 dari teman2. Fobia saya juga muncul diduga karena sindiran kakak saya sendiri seperti yg sudah saya ceritakan. Mungkin bagi teman anda, mereka hanya bermaksud bercanda, namun tanpa mereka sadari hal itu dapat mengganggu psikis anda.

Menurut saya, salah satu solusinya, adakan saja sebuah forum dimana dalam forum tersebut setiap anggota berhak mengeluarkan unek-uneknya. Lalu berterus teranglah pada teman2 anda bahwa anda memiliki fobia sosial, dimana dukungan dari teman2 sangat anda butuhkan, dan juga katakan bahwa anda merasa tidak nyaman ketika mereka menyindir anda. Dengan begitu, tentu teman anda akan menyadari bahwa yang mereka lakukan salah dan tidak mengulanginya lagi dikemudian hari. Namun bila anda tidak mendeklarasikan unek2 anda, mereka tidak akan pernah tahu bahwa mereka salah dan mungkin terus melakukan sindiran maupun bullying pada anda.

Ada info mengenai cara berobat gratis ke psikeater. Anda bisa menggunakan jamkesmas atau jamkesda bila punya. Kalau tidak punya bisa minta jamkesmas pengganti di dinas kesehatan (dinkes). Kalau tidak ada juga, daftarkan diri anda sebagai peserta BPJS ke kantor BPJS (dulunya bernama Askes). Setelah dapat, pergi ke puskesmas untuk minta rujukan (diagnosa penyakit) ke psikeater. Setelah itu anda bisa ke psikeater yang dirujuk td tanpa biaya.

Riza Paramayudha mengatakan...

Oh iya, saran saya ceritakan saja mengenai fobia social anda pada keluarga. Karena saya yakin keluarga anda merupakan orang terdekat bagi anda yang akan selalu mensupport kesembuhan anda. Tidak perlu merasa malu, toh fobia sebenarnya bukan hal yg memalukan. Berusahalah untuk terbuka dengan keluarga anda ya Nov...

Novi mengatakan...

Terimakasih atas saran dan solusinya
Saya punya kartu askes, bagaimana cara minta rujukannya kepuskesmas?
Saya sudah bercerita ke orangtua,tp mereka bilang tidak perlu ke psikolog,psikiater atau lainnya, mereka bilang saya lemah dan itu harus disembuhkan lewat diri saya sendiri?

Riza Paramayudha mengatakan...

Memang benar masalah psikis sebenarnya diri sendiri yg menyembuhkan, tapi mengalahkan fobia tidak semudah yg dibayangkan. Psikeater hanyalah membantu menemukan akar permasalahan, memberi solusi dalam bentuk terapi, dan bila ketakutan itu muncul berlebihan maka anda akan diberikan obat penenang. Dan obat penenang itupun bukan yg akan menyembuhkan anda, itu hanyalah sebuah media untuk membantu anda menguasai diri ketika menghadapi ketakutan anda. Karna itulah obat yg diberikan pasti dosisnya akan dikurangi seiring dengan kemajuan anda.

Saya justru heran dengan orang tua anda, kalo masalah finansial sudah teratasi dengan akses (sekarang disebut BPJS), seharusnya orang tua anda mensupport untuk berobat ke psikeater. Mungkin, orang tua anda memiliki pola pikir bahwa periksa ke psikeater atau spesialis kejiwaan hanya untuk orang gila, padahal masalah psikis itu bukan hanya gila lho. Fobia juga termasuk masalah psikis yg harus disembuhkan. Dan fobia bukan berarti orang gila.

Dari tanggapan orang tua anda mengatakan anda lemah, saya justru khawatir fobia social anda justru disebabkan oleh orang tua anda sendiri. Kata2 seperti itu memiliki efek negatif bila dikatakan berkali2 yg akhirnya anda menjadi kehilangan rasa percaya diri. Efek lebih jauh, anda menjadi takut menerima judgement yg buruk dari teman2 anda dan muncullah ketakutan itu. Bila ternyata nantinya psikeater tersebut mengidentifikasi bahwa penyebabnya adalah orang tua anda, bisa jadi yg menerima terapi bukan hanya anda, melainkan orang tua anda juga. Agar orang tua anda tidak lg mengeluarkan statement yg negatif, melainkan kata2 yg justru memotivasi anda untuk sembuh.

Cobalah dekati lg orang tua anda, bicarakan bahwa masalah yg anda hadapi bukan masalah sepele. Bukalah internet, cari tahu mengenai fobia social, dan tunjukan pada orang tua anda. Karena support dr orang lain terutama keluarga akan sangat membantu dalam mempercepat kesembuhan.

Bila ortu tetap tidak support, maka pilihan kembali pada Novi. Ini adalah hidupmu, maka jalanilah apa yang anda yakini dapat membantu anda meraih rasa tentram. Lagipula, periksa ke psikeater bukanlah sebuah kesalahan. Psikeater memiliki ilmu untuk masalah psikis. Kecuali anda berobat ke ponari dengan air kobokannya dan berharap anda sembuh dengan instan, itu baru salah namanya.

Bila anda memiliki kartu askes yg masih berlaku, masih bisa dipake kok. Datang saja ke puskesmas setempat dan di bagian pendaftaran bilang bahwa anda peserta akses dan ingin meminta rujukan untuk ke spesialis. Nantinya dokter umum akan mendiagnosis terlebih dahulu dan kemudian akan membuatkan surat rujukan ke spesialis kejiwaan.

Riza Paramayudha mengatakan...

Sekedar info, psikeater dengan psikolog beda lho..

Psikeater adalah dokter spesialis kejiwaan yang memiliki kompetensi untuk menyembuhkan masalah kejiwaan dan memiliki wewenang untuk memberikan obat-obatan psikotropika untuk membantu kesembuhan.

Sedangkan psikolog adalah orang yg mempelajari kejiwaan, namun bukan untuk menyembuhkan dan tidak memiliki wewenang dalam pemberian obat-obatan psikotropika karena Psikolog pada dasarnya bukan seorang dokter.

Novi mengatakan...

Terimakasih, saya mau berubah, apa saya bisa mengurusnya tanpa bantuan orang tua?
Oh ya, boleh minta alamat email kakak?

Riza Paramayudha mengatakan...

Harusnya bisa kok, saya dulu waktu berobat juga sendirian. Orang tua hanya ikut menemani waktu periksa yang pertama kali, selanjutnya saya sendiri karena orang tua saya ada di Tegal sedangkan saya di Bandung.

Seperti yang saya bilang sebelumnya, saat pertama kali anda periksa, tentu si psikeater akan mencari penyebab munculnya fobia social anda. Seandainya penyebabnya adalah orang tua anda, maka memang ada baiknya orang tua anda ikut di sesi pertama, karena orang tua anda juga akan diberi nasehat agar peristiwa ini tidak terulang lagi.

Email saya : riza_paramayudha@yahoo.com
Maaf ya kalo ga bisa langsung jawab, kadang saya sedang sibuk dengan pekerjaan.

Anonim mengatakan...

mas tau ga psikiater di daerah Kuningan Jawa Barat yang bisa melakukan hypnotherapy itu, saya juga merasa terganggu dengan fobia ini. Sangat berharap jika mas bisa membantu. Saya juga sudah mengirim e-mail k e-mail mas di atas, diunggu balasannya. Terima kasih sebelumnya :)

Partogi Hutagalung mengatakan...

Apakah obat yang diberikan oleh dokter Anda memberikan efek ngantuk? Karena saya juga mengalami hal yang sama dengan yang mas alami. Saya sudah pergi ke psikiater dan diberikan dua jenis obat. Salah satunya membuat saya selalu mengantuk.

Riza Paramayudha mengatakan...

@Partogi Hutagalung:
Betul sekali, itulah efek samping yang saya rasakan. Bila saya sedang dalam kondisi yang memicu munculnya fobia, memang saya menjadi lebih tenang dan tidak terlalu stress, namun bila saya sedang dalam kondisi yang "aman" maka saya merasakan ngantuk berat. Saking ngantuknya, dulu saya pernah ketiduran saat kelas berlangsung. Jadi saya liat dosen masuk kelas, saya ketiduran dengan amat sangat nyenyak, dan saat terbangun dosen sudah meninggalkan kelas. Semenjak itu saya komplain ke dokternya, namun menurut beliau harusnya tidak sengantuk itu. Namun faktanya saya merasa ngantuk sekali. Karena saat itu memang tingkat fobia saya sudah semakin menurun, maka dosis obatnya dikurangi, dan rasa ngantuknya juga berkurang.

Anonim mengatakan...

mas yang ini bukan Dr. Ny. Hj. Arlisa Wulandari, M. Kes. Spkj
alamat ir. juanda no. 1
biayanya berapaan ya mas, kebetulan anak kosan, ortu gatau saya kena ginian? tolong mas

prawita mengatakan...

wah maksi mas sudah mau berbagi pengalaman.. jjur sbenernya sya slalu merasa bahwa fobia sosiall ini tidak bsa disembuhkan, karena dari hal-hal kecil sperti bertemu orang2 bnyak atau pergi ke supermarket kdang2 saya merasa tidak aman, lalu tngan saya mulai berkeringat..sya sngt khawatir, takut dengan msa depan sya terutama dunia keja dn apalagi klau sudah bekeluarga nnti bsa hncur.. tp skrg sdkit demi sdkit sya hrus melawan rasa takut yg berlebihan.mas bner bgt sbenernya apa sih yng perlu ditakutkan dari situasi sosial.. saya harus belajar untuk yakin pda diri sndiri dn gk usah trlalu memikirkan pndangan org lain tntg kita. Saya brharap bisa smbuh dari gngguan ini,bnyak bgt yg terbuang sia2 gara2 sifatku yang terlalu pemalu ini.. skli lgi makasi motivasinya mas..

Riza Paramayudha mengatakan...

@Anonim: Kalau nama lengkapnya saya malah sudah lupa. Dulu pernah dikasih kartu namanya tapi malah hilang.

@Prawita : Syukurlah kalau apa yang saya share disini bisa memberikan motivasi kepada anda. Semangat !

Fadfad Ristanto mengatakan...

Saya juga terkena phobia ini , sampai sampai semua aktifitas saya jangan ada orang yng mengetahuinya, nyebrang jalan harus ditempat sepi, ke toko harus keadaan yang sepi juga..., bahkan tidak jarang ketika ke mall, saya merasa orang orang itu ngomongin saya, yang ada perasaan takut, cemas dan tubuh gemetaran.

Ahmad mengatakan...

sama persis gan. ane dlu pas kecil juga periang dan suka tampil, banyak ikut lomba, jadi ketua kelas dan lainnya. namun semenjak SMA entah kenapa ane droooopppp.pemalu, malas kalo ada acara. haha. sampe sekarang.. ane menghindari tatap mata.. bahkan ama dosen dan teman.

jadi tipsnya hadapi aja dan sering2 beabung dan ikutan kegiatan2 semacam olahraga, acara kampus dll yaa. hmm oke deh.. Insya Allah dicoba :D
terima kasih gan

ketut suartana mengatakan...

Info yang sangat bagus, sy jg mengalami hal yg sama, butuh perjuangan yang panjang utk bs sembuh, tapi intinya jangan putus asa dan masalahnya jangan dipendam sendiri ..

Anonim mengatakan...

Apakah ada yg dari area Bdg? rasanya akan lebih mudah untuk menghadapi SAD bersama-sama, dgn org yg mengerti bagaimana rasanya hidup dalam dunia SAD. Di luar negri byk group therapy untuk penyakit ini, tp sy belum menemukannya di Indonesia. Buat yg mau share bs add WhatsApp 08975763192, kt coba buat small group dulu, sekedar untuk sharing

Willy Prastiyo mengatakan...

Saya setuju sama Anonim diatas. Ngomong2, boleh tau biodata antum gak?
Dari dulu sya ingin buat forum penderita fobia sosial di bdg utk bisa sharing sesama penderita fobia sosial, juga berkumpul bersama. Sya jg asal Bdg. Silakan cek biodata sya di FB: Willy Prastiyo, atw SMS 081321999868.

Saya menderita fobia ini dari SMP hingga sekarang (kuliah), tersiksa sekali, rasanya seperti setengah hidup, setengah mati, sungguh. Saya sudah pernah berobat ke Psikolog, Psikiater, pernah juga ke Hipnoterapis, tetapi hasilny nihil. Dimulai dari hipnoterapi, psikoterapi kognitif, bahkan penggunaan obat antidepresan saya pernah mencobanya. Banyak juga buku psikologi self help yang saya baca, tapi sya tak kunjung sembuh.

Entah siapa yang bisa menolong saya. Saya mohon saran & bantuan teman2 di forum diskusi ini. Silakan hubungi saya bagi yang tertarik untuk ikut forum perkumpulan penderita fobia sosial di bdg.

Riza Paramayudha mengatakan...

Sebelumnya saya mohon maaf, karena kesibukan saya saat ini, akhirnya saya jadi jarang buka blog. Ternyata sudah banyak yang komen, bahkan kirim email.

@Fadfad: Saya rasa tingkat phobia anda sudah cukup parah. Apakah sudah mencoba untuk terapi? Karena jika dibiarkan, hal itu tentu membuat anda tidak nyaman bukan?

@Ahmad: Iya, semakin sering kita berinteraksi, meskipun tidak nyaman, namun justru yang tidak nyaman itu yang akan menyembuhkan kita. Dan lama kelamaan, kita akan nyaman juga setelah terbiasa. Dan itu artinya kita sudah bisa mengendalikan rasa takut.

@Ketut: Betul Pak, perjuangannya memang tidak mudah. Karena itu seyogyanya pihak keluarga harus mendukung kesembuhan karena keluargalah orang yang paling dekat dengan penderita.

@Anonim: Ide yang bagus. Kita perlu mengadakan forum di whatsapp untuk mempermudah komunikasi. Kalau di blog ini, saya sendiri jarang punya waktu untuk membukanya.

@Willy : Saya sudah add FB anda. Mohon di accept. Ga ada Whatsapp ya mas?

Anonim mengatakan...

Saya tinggal di bandung, pengen nyoba ke dokter alisha yg mas pernah berobat itu, kira-kira bisa pake bpjs gak ya? Atau ada saran psikolog/psikiater yg bisa pake bpjs kemana aja ya? Saya sekarang kena anxiety disorder, rasa cemas berlebih, perasaan selalu gelisah dan gak bisa tenang :(

Anonim mengatakan...

saya sangat tertarik sama postingan ini,,karena saya penderita phobia sosial jg..kalau boleh mau mnt fb
sama no mas yg bisa dihubungi..saya ingin sharing sama mas

Poskan Komentar

Saya sangat mengharapkan kritik, saran, atau opini anda... Terima Kasih...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Premium Wordpress Themes