Kamis, 07 Januari 2010

Pelanggaran oleh Oknum Bidan

Akhirnya saya beranikan diri membahas peristiwa yang menurut saya sangat menyimpang dari semestinya...
Berdasarkan kisah nyata yang disekitar tempat tinggal saya (Kabupaten Tegal)...
Entah bagaimana di tempat lain, tapi sepertinya sama saja...
Tulisan ini saya buat semata-mata hanya ingin memberikan info kepada masyarakat mengenai apa yang terjadi...

Kali ini yang saya bahas adalah oknum bidan.

Bidan adalah tenaga yang membantu seorang ibu terkait dengan persalinan. Bidan secara umum tidak mempelajari pengobatan berbagai macam penyakit secara luas seperti halnya dokter. Ilmu kebidanan dipelajari dalam kedokteran, namun ilmu kedokteran barangkali hanya dipelajari dalam porsi yang sedikit dalam sekolah bidan/akademi kebidanan yang berguna dalam menangani kasus ringan dan memberikan pertolongan awal untuk mencegah terjadinya hal yang lebih membahayakan.


Apa masalahnya?

Pada kenyataannya, di lingkungan tempat tinggal saya, cukup banyak oknum bidan yang tidak hanya memberikan pelayanan bantuan persalinan, namun juga membuka praktek pengobatan.
Mengapa bisa terjadi?
Karena oknum bidan itu sendiri memang mengaku bisa mengobati.
Padahal default-nya mereka tidak mempelajari ilmu pengobatan secara luas seperti halnya dokter, dan tentunya tidak punya izin untuk mengobati berbagai macam penyakit seperti halnya dokter (kecuali pada keadaan tertentu yang memang diperbolehkan, misalnya tidak adanya dokter di suatu daerah tertentu seperti yang tertera pada undang-undang).

Mengapa bisa terjadi?

Setelah saya amati, kejadian ini mungkin terjadi akibat kesalahan pemerintah juga. Pada puskesmas di tempat tinggal saya, dokter yang dipekerjakan hanya sedikit, mungkin sekitar 2 atau 3 orang. Padahal jumlah pasien setiap hari sangat banyak sedangkan jumlah dokter pada puskesmas itu sangat sedikit, maka dokter juga tidak mampu menangani pasien sebanyak itu. Akibatnya pemerintah setempat "mengizinkan" para bidan untuk membantu dokter dalam menangani pasien-pasien yang butuh pengobatan.

Mengapa saya katakan "mengizinkan"? Karena dalam kondisi default bidan tidak dalam kompetensinya untuk mengobati pasien, tapi akibat kurangnya tenaga dokter, maka sepertinya tidak ada jalan lain. Memang bisa dibilang diagnosa bidan tersebut berada dibawah pengawasan dokter, namun benarkah tiap diagnosis yang dilakukan bidan diperiksa oleh dokter saat itu juga?

Maka dari situlah otomatis bidan itu mulai belajar mengobati berbagai macam penyakit yang mungkin penyakit tersebut tidak diajarkan penanggulangannya ketika menempuh studi di akademi kebidanan karena memang bukan kompetensinya. Bisa jadi, pasien tidak kunjung sembuh akibat kesalahan diagnosis, pengobatan yang tidak tepat atau mungkin dosis obat yang tidak tepat.

Dengan rutinitas sehari-hari itu, barangkali sedikit banyak oknum tersebut mengetahui beberapa obat untuk mengobati penyakit tertentu. Tentunya penyakit yang saya maksud disini terkait mengenai penyakit yang tidak memiliki korelasi dengan kebidanan.

Lebih parahnya lagi, mengingat masyarakat di lingkungan tempat tinggal saya dapat dibilang masih cukup banyak yang tertinggal, sering saya temui beberapa paradigma yang menurut saya terbalik. Berikut ini paradigma yang saya temui:

1. "Bidan itu lebih pintar dari dokter karena bidan mampu mengobati sekaligus membantu pesalinan, sedangkan dokter hanya mampu mengobati saja". Padahal pernyataan itu terbalik, kenyataannya justru bidan yang default-nya membantu dalam kaitannya dengan persalinan sedangkan dokter bisa mengobati pasien dan tentu bisa juga membantu persalinan.

2. "Dokter itu sebenarnya dulunya adalah bidan, namun karena mereka sudah lama bekerja akhirnya secara otomatis gelarnya menjadi dokter". Padahal kenyataannya sekolah bidan dengan sekolah kedokteran tentu berbeda. Gelar dokter tidak diberikan karena sudah lama berkerja sebagai bidan, tetapi gelar dokter memang di dapatkan dari sekolah kedokteran.

Entah bagaimana paradigma tersebut bisa muncul di tengah masyarakat di sekitar tempat tinggal saya.

Apakah semua ini termasuk mal praktek?
Bisa saya katakan ya.
Kalo selama ini ada dokter yang dituduh mal praktek karena pasiennya meninggal, itu belum tentu.
Ini adalah salah kaprah yang terjadi di masyarakat kita.
Bila ada dokter yang melakukan tindakan medis, namun pasien tidak tertolong, maka tidak jarang keluarga pasien sambil emosi mengatakan "mal praktek".
Padahal belum tentu dokter berbuat mal praktek seperti yang dituduhkan.

Mal praktek adalah tindakan yang dilakukan di luar tindakan yang memang seharusnya dilakukan/melakukan tindakan tanpa ada alasan yang kuat.

Dan inilah yang dilakukan oknum bidan yang melakukan pengobatan kepada pasien.
Mereka tidak dibekali ilmu untuk itu dengan cukup mendalam (bukan kompetensinya untuk mengobati), padahal dalam menyembuhkan seseorang tidak segampang yang dibayangkan, dokter harus mendiagnosis penyakitnya, menentukan dosis yang tepat, dan mempertimbangkan efek2 samping yang mungkin terjadi, dll.

Maka menurut saya, bila ada oknum bidan yang praktek untuk mengobati pasien, bisa saya katakan itu adalah mal praktek karena mereka melakukan tindakan yang sebenarnya bukan kompetensi mereka.

Yang tidak bisa saya terima, kenyataannya masyarakatlah yang merasakan akibatnya, terutama masyarakat kecil lah yang merasakannya. Mereka jauh-jauh datang ke puskesmas, berharap agar sembuh dengan biaya murah atau bahkan gratis, tapi terkadang justru tidak ditangani oleh dokter, melainkan oleh bidan. Bila diagnosis dan obat yang diberikan pada pasien benar-benar dalam pengawasan dokter, tentu tidak terlalu menjadi masalah karena diagnosis dan obat yang diberikan lebih terjamin tepat sasaran. Tapi bagaimana bila pengawasan dokter tersebut tidak berjalan sebagaimana mestinya karena si dokter itu sendiri sedang kewalahan untuk memeriksa pasien?

Lalu siapakah yang bisa disalahkan?
Pemerintahkah? (karena tidak bisa mempekerjakan dokter untuk masalah pengobatan di puskesmas)
Oknum bidankah? (Karena pada dasarnya bukan kompetensinya dalam mengobati berbagai macam penyakit)
Dokterkah? (Karena tidak bisa melakukan pengawasan secara efektif pada bidan yang menjadi tanggungannya di puskesmas?)

Sayangnya selalu masyarakat kecil lah yang menjadi korbannya. Tentu beda cerita dengan orang kaya yang bisa saja berobat ke dokter atau bahkan ke spesialis. Puskesmas menjadi harapan terutama bagi masyarakat kecil karena harganya yang sangat terjangkau atau bahkan gratis.

Saya tidak mengatakan semua bidan melakukan perbuatan ini, tapi kenyataannya cukup banyak oknum bidan yang memberikan jasa pengobatan dengan cara yang tidak dibenarkan oleh undang-undang. Saya sendiri tidak mengerti, mereka melakukan hal itu karena belum mengerti kompetensi mereka sendiri atau ada sebab-sebab lain. Meskipun mungkin praktek tersebut juga tidak terang-terangan, tapi seperti inilah kenyataannya.

Jika saya ditanya, mengapa saya tidak menuliskan tulisan ini pada media massa misalnya. Saya justru merasa cara saya menulis masih sangat buruk dan mungkin masih membawa unsur subjektif. Ini menjadi pelajaran bagi saya bahwa ketika saya menulis di blog ini, alih-alih memberikan wawasan pada yang belum tahu dan ingin meminimalisir terjadinya penyimpangan, tulisan saya ini terbukti masih menyulut emosi yang mungkin disebabkan penggunaan kata yang dianggap tidak sopan. Motivasi utama saya sebenarnya hanya ingin mengangkat isu ini yang mungkin jarang orang mengerti. Justru saya berharap, mungkin ada orang dari IBI (Ikatan Bidan Indonesia) yang membaca tulisan saya, mencari tahu apakah benar fenomena ini terjadi di Indonesia, dan mungkin melakukan langkah-langkah tertentu untuk mencegah penyimpangan semacam ini. Atau mungkin para ahli hukum untuk mengkaji apakah kepmenkes yang mengatur profesi bidan sudah berjalan sebagaimana mestinya. Atau mungkin penegak hukum yang seharusnya bisa meluruskan bila terjadi penyimpangan dari ketentuan yang ada. Atau orang-orang lainnya yang berkompeten untuk menanggulangi masalah ini.

Terima kasih banyak atas beberapa kritik membangun yang telah disampaikan, sekali lagi saya mohon maaf bila mungkin masih ada kata yang tidak sopan. Tidak ada maksud menyalahkan profesi tertentu, namun hanya kelemahan saya untuk menyampaikan apa yang ada dipikiran saya sehingga mungkin menimbulkan perspektif lain.

UPDATE !!!

Ternyata pemerintah memang mengizinkan bidan untuk membantu memeriksa pasien di puskesmas dikarenakan jumlah dokter tidak memadai dibandingkan jumlah pasien yang berobat di puskesmas. Yang saya pikirkan adalah, bagaimana bila obat-obat yang harus diberikan adalah antibiotik. Seberapa jauh bidan menguasai penggunaan antibiotik untuk penyakit-penyakit tertentu diluar kaitannya dengan penyakit kebidanan?
Penggunaan antibiotik tidak bisa sembarangan. Bahkan setiap obat antibiotik selalu tercantum "Harus dengan resep dokter". Izin untuk melakukan  pengobatan sebenarnya hanya diberikan di saat bidan tersebut berada di puskesmas dalam pengawasan dokter. Akan tetapi, dapat muncul efek negatif dari izin ini. Misalkan saja ada pasien yang menderita penyakit tertentu dan cukup berat, terkadang dosis obat yang diberikan perlu ditambah. Namun karena selama ini saat mengobati pasien di puskesmas menggunakan dosis yang standar, maka bidan tidak terlalu mengerti harus seberapa banyak dosis obat yang perlu ditambahkan bila penyakitnya sudah cukup berat. 

Dan gawatnya lagi, oknum bidan tersebut menjadi berani yang membuka praktek untuk mengobati seperti saat di puskesmas berbekal apa yang ia tahu saat mengobati di puskesmas. Dan parahnya lagi, banyak bidan yang memberikan antibiotik juga pada pasiennya.

Penggunaan antibiotik yang tidak sesuai dosis justru dapat merugikan pasien. Penyakit yang diderita dapat menjadi kebal bila dosis yang diberikan kurang. Dosis yang berlebihan pun juga sama tidak menguntungkannya. Akibatnya pasien bukannya sembuh, malah menjadi semakin parah. Dan juga, beberapa antibiotik juga memiliki efek samping. Karena itu perlu perhitungan khusus untuk menentukan dosis dan jenis antibiotik yang akan diberikan. Dalam hal mengobati, maka dokterlah yang lebih berkompeten.

Dalam hukum, bidan hanya diperbolehkan memberikan pengobatan bila dalam kondisi mendesak seperti yang dijelaskan dalam kepmenkes RI nomor 900/MENKES/SK/VII/2002 :
"Dalam keadaan tidak terdapat dokter yang berwenang pada wilayah tersebut, bidan dapat memberikan pelayanan pengobatan pada penyakit ringan bagi ibu dan anak sesuai dengan kompetensinya"
Terima kasih juga mengenai info mengenai diperbolehkannya seorang bidan membuka klinik pengobatan, namun tetap saja harus ada pengawasan dari dokter. Artinya, tidak bisa secara personal bidan membuka praktik pengobatan. Hal ini tentu untuk memberikan perlindungan pada pasien bahwa pengobatan yang ia terima tepat sebagaimana mestinya.


*Untuk lebih detailnya, silahkan baca juga semua komentar yang ada dibawah posting ini.


Reaksi:

76 komentar:

Anonim mengatakan...

gendeng....
sok tau....

mang uda kul. bodan diri u??????????
mana ada dokter mau menetap di desa???mau gak mau ya bidan berhak mengobati,,,....
cz sselama ini yng ada hx BIDAN desa, n gk pernah ada yang namanya DOKTER desa.......

yng ada orang desa yng sok tau....:P

Riza Paramayudha mengatakan...

Hello...
Memangnya sejak kapan bidan belajar mendiagnosis penyakit?
Justru disitulah pelanggarannya, ibarat seorang yang tidak pernah sekolah/belajar untuk menjadi pilot tapi mencoba untuk menerbangkan pesawat...

Sekali lagi saya tekankan, pemerintah memang memberi sedikit hak mengobati tersebut di puskesmas karena keterbatasan jumlah dokter di puskesmas. Namun itupun hanya untuk penyakit yang tergolong ringan misalkan pilek.

Namun, untuk melakukan praktik pengobatan di rumah seperti dokter, bidan sama sekali tidak memiliki hak. ITU BUKAN BIDANGNYA DAN JELAS ITU MELANGGAR HUKUM !

Karena itu saya sangat menyayangkan kebijakan pemerintah yang memberikan sedikit wewenang pada bidan (dan bahkan perawat) untuk memegang peranan dokter karena jelas itu telah menyalahi aturan, namun apa daya memang puskesmas sangat kekurangan tenaga dokter.

Melihat dari gaya komentar anda, saya rasa anda seorang bidan ya?

By the way, terima kasih sudah berkomentar...

Riza Paramayudha mengatakan...

Munculnya sebuah hak adalah setelah melakukan kewajiban. Untuk mendapatkan hak mengobati, jelas kewajiban yang dipenuhi terlebih dahulu adalah lulus menjadi seorang dokter. Bahkan sebelum dokter mendapatkan izin praktek, dokter tersebut harus mengikuti tes UKDI (Uji Kompetensi Dokter Indonesia) yang berstandar nasional. Sedangkan bidan, dengan seenaknya membuka praktek pengobatan dirumah dan mengatakan "punya hak" karena yang tinggal didesa kebanyakan adalah bidan.

Hahaha, dengan alasan seperti itu entah kenapa itu sangat lucu bagi saya...

Anonim mengatakan...

maaf sebelumnya,,
anda boleh dan mempunyai hak untuk berpendapat
tapi menurut saya pendapat anda terlalu merendahkan profesi bidan
dan pendapat anda itu terlalu berlebihan

bidan memang bukan dokter, tetapi bidan juga belajar beberapa penyakit meskipun tdk sangat spesifik sperti yg dokter pelajari
meskipun demikian, anda juga tidak bisa berpendapat seenaknya seperti itu..

dan walaupun bidan tdk bisa mengobati tp toh kenyataannya bnyak pasien yg lebih memilih utk berobat ke bidan drpd ke dokter, mengingat kondisi ekonomi mereka
jd saya harap anda bisa berpendapat dengan lebih mempertimbangkn dua sisi, yaitu positif dan negetif, jgn hanya negatifnya saja

Riza Paramayudha mengatakan...

Loh? Saya sama sekali tidak merendahkan profesi bidan, tapi saya justru berusaha membuka sebuah kenyataan yang terjadi di masyarakat.

Hmm, mungkin dibilang mempelajari penyakit, itupun hanya sebagian penyakit/kelainan dalam hal persalinan dan bidan hanya diajarkan untuk memberi terapi/penanganan sementara agar tidak terlalu parah, tapi bukan mengobati. Yang seharusnya terjadi adalah sang bidan setelah memberikan pertolongan pertama tadi adalah merujuk pasien tersebut pada dokter. Pemberian antibiotikpun hanya untuk kasus tertentu yang memang sangat krusial misalnya adalah saat terjadi ketuban pecah dini.

Tapi kenyataannya, para oknum bidan justru sering "mengaku" bahwa dirinya dapat mengobati penyakit (Penyakit-penyakit diluar persalinan). Dan itu sesuatu yang salah.

Memang ada kasus dimana seseorang yang tinggal di desa lebih memilih berobat ke bidan karena dengan alasan lebih murah ataupun relatif sulinya ditemukan dokter di tempat tersebut. Namun menurut saya, dalam kondisi apapun dan alasan apapun seharusnya bidan tersebut tidak boleh mengobati penyakit (apalagi penyakit diluar persalinan, jelas itu bukan kompetensinya)

Saya justru ingin membuka mata masyarakat, bahwa berobat ke bidan (atau ada pula kasus dimana seseorang berobat kepada perawat/mantri) adalah suatu kesalahan. Karena bidan/perawat/mantri bukanlah profesi yang berkompeten dalam mengobati suatu penyakit apapun alasan dan kondisinya.

Mungkin anda merasa saya berlebihan, tapi saya memang sangat terganggu dengan kenyataan yang terjadi di sekitar tempat tinggal saya dimana oknum bidan & perawat/mantri di sekitar tempat tinggal saya secara sadar mengatakan pada masyarakat bahwa dirinya memang dapat mengobati. Saya tidak mengatakan semua bidan & perawat/mantri melakukan hal seperti itu, tapi para oknum tersebutlah yang membuat saya gerah.

Bahkan dengan konyolnya, oknum bidan tersebut ada yang mengatakan pada orang-orang bahwa bidan justru lebih hebat dari dokter karena bidan dapat mengobati & membantu persalinan. Itu jelas sekali mereka melakukan penipuan terhadap orang-orang desa yang mungkin memang tidak terlalu mengerti masalah ini karena masih banyak orang-orang di desa saya yang masih berpendidikan rendah sehingga mereka tidak tahu bahwa mereka sedang ditipu.

Saya hanya berusaha mengatakan sebuah kenyataan yang terjadi di sekitar tempat tinggal saya. Dan saya berusaha memberikan sebuah penjelasan agar semua orang tahu mana yang benar dan mana yang salah.

Terima kasih atas komentarnya...

Anonim mengatakan...

takut ya maz rejekinya diambil bidan?

Riza Paramayudha mengatakan...

Wkwkwk...
Saya kan hanya ingin memberitahu bahwa apa yang dilakukan oknum bidan tersebut tentu sebenarnya melanggar hukum karena mereka bekerja tidak dalam kompetensinya...
Dan saya ingin menunjukkan sebuah kebenaran pada masyarakat sehingga mereka tidak terjerumus...

Saya percaya betul kalo rejeki ada di tangan Tuhan..
Dan lagi pula saya bukan seorang dokter atau pun calon dokter kok...

:-D

Anonim mengatakan...

Jmn dulu profesi bidan sangat dihormati karena ahli dalam persalinan dan pengobatan.saat ini ada spesialisasi sendiri antara bidan dengan dokter dan punya sekolah/pendidikan yang berbeda.sehingga ilmu yang berkembang pun tidak sama antara bidan dengan dokter. Bidan biasanya adalah seorang perempuan, sementara di Indonesia sendiri diskriminasi antara laki-laki dan perempuan sangat mencolok. kalo mau jujur coba saja lihat,sekolah bidan biasanya cuma sampai d3 kalo buka praktek, sementara biayanya sangat mahal.berbeda dengan di New Zealand, disana profesi dokter obsgyn dan bidan memiliki hak yang sama baik pasien maupun ongkos berobat.yang bersalin normal ditolong bidan, yang komplikasi ditolong dokter.tidak banyak kesenjangan antara bidan dan dokter disana.pendidikan bidan di Indonesia jauh tertinggal dbandingkan negara lain, karena di negara kita banyak kecemburuan sosial yang terjadi. Isu gender pun mulai berkembang karena dokter banyak yang laki-laki, sementara bidan banyak yag perempuan, namun bila merujuk pasien, bidan yang berkualitas juga harus punya ketrampilan lain yaitu menyetir mobil.di negara lain biasa seorang dokter bisa menjadi penyanyi, bankir, selebritis.bahkan di negara afrika, perawat bisa ditugaskan oleh dokter untuk mengoperasi pasien.hukum di Indonesia sangat baik dalam pembuatan undang-undang yang memihak dokter, karena IDInya solid, kalo bidan karena banyak yang perempuan banyak yang tidak mau mengungkapkan pendapatnya, sehingga diapa-apakan juga diam saja, pendidikan bidan padahal juga mengenal antibiotik, obat-obatan sederhana dan sebagainya.padahal jika membantu menolong persalinan dan pasiennya meninggal, klu dituntut gajinya bidan tidak cukup buat melunasi tuntutan pasien.jadilah tindak kekerasan terhadap bidan (perempuan), dan ini belum banyak diungkap karena pendidikan bidan sangat rendah dibandingkan dengan dokter pada masa sekarang ini,..apalagi dukun. klu buka alternatif dan tidak ada ijinnya itu di masyarakat kita masih saja laris, dan tidak ada tuntutan bila ada pasiennya yang meninggal, padahal kadang-kadang tanpa sekolah.

Anonim mengatakan...

Saat ini ada peraturan otonomi daerah mengenai poskesdes dan bidan siaga 24 jam klu tidak salah tahun 2006, disitu bidan juga berwenang memberikan obat-obatan sederhana, dan tugas semacam itu biasanya mendapat surat penugasan dari dokter.kalaupun ada yang salah dalam pengobatan, maka itu menjadi tanggungjawab dari dokter yang memberikan penugasan. yang menjadi dilema saat ini adalah pemberian obat pada keluarga maupun tetangga, perawat juga ada yang seperti itu. belum lagi tentang jampersal, maupun persalinan gratis, itu merupakan bukti bahwa wanita Indonesia masih berada di bawah garis kemiskinan, disamping banyaknya laki-laki yang tidak mau bekerja, banyaknya waria mengaku lebih suka jadi wanita ketimbang pria karena kerjaannya cuman berdandan. kalau ditanya pasti tidak ada yang mau merasakan sakitnya haid dan melahirkan.itulah sebabnya jumlah laki-laki makin berkurang

Riza Paramayudha mengatakan...

1. Mengutip kalimat anda ; "Jmn dulu profesi bidan sangat dihormati karena ahli dalam persalinan dan pengobatan"

Yang saya tanyakan, ini sejarah dari mana? Apakah ada sumbernya? Setelah saya cari-cari di internet baik situs lokal maupun situs luar tentang sejarah bidan, dimana-mana bidan itu hanya bekerja dalam batasan membantu persalinan dan bukan pengobatan. Dan setahu saya, dari jaman dulu bidan dan dokter itu berbeda. Dokter mampu melakukan apa yang dilakukan bidan karena memang ilmunya jauh lebih luas (dalam sekolah kedokteran juga ada kuliah kebidanan), namun bidan tidak memperoleh ilmu pengobatan layaknya dokter.

2. Masalah mengapa bidan itu perempuan, saya kurang tahu pasti, namun saya rasa mengapa bidan itu perempuan bukan karena adanya diskriminasi antara laki-laki dan perempuan. Tetapi karena memang masyarakat cenderung lebih nyaman untuk melahirkan di tangan seorang perempuan daripada laki-laki. Dan saya rasa itu justru menjadi sebuah keuntungan bagi perempuan, karena artinya tidak saingan dengan laki-laki untuk menjadi seorang bidan.

3. Terkait masalah D3, saya sendiri kurang tahu, tapi mungkin memang skill yang dibutuhkan untuk membantu persalinan saja cukup dimiliki dengan kuliah sampai tingkat D3 saja.

Contoh lain yang saya tau misalkan seperti ini, di kampus saya, ada kuliah D3 metrologi. Metrologi mempelajari tentang pengukuran. Dan saya kuliah di jurusan Teknik Fisika. Di teknik fisika juga mempelajari pengukuran. Namun mengapa metrologinya D3 ? Sedangkan Teknik Fisika S1? Karena di D3 metrologi tidak mempelajari engineering seperti halnya di S1 Teknik Fisika.

Jadi menurut saya, mengapa bidan D3, karena yang menjadi lingkup kerjanya memang hanya sebatas membantu persalinan, sedangkan dokter jauh lebih luas lingkupnya. Sehingga ini tidak ada kaitannya dengan diskriminasi seperti yang anda sebutkan.

Mengapa sekolah bidan mahal? Karena sekolah bidan pada umumnya swasta dan hampir semua lembaga pendidikan swasta relatif mahal. Bahkan sampai sekarang saya belum pernah tahu ada sekolah bidan yang negeri.

4. Terkait di New Zealand. Anda mengatakan bahwa dokter obgyn dan bidan memiliki hak yang sama baik pasien maupun ongkos berobat. Bukankan di Indonesia juga seperti itu? Saya tidak melihat adanya perbedaan hak dalam mendapatkan pasien. Artinya, tidak ada paksaan seorang pasien untuk memilih melahirkan di dokter obgyn ataupun di bidan. Semua itu terserah pada pasien. Kalo masalah ongkos, itu kan bidan sendiri yang menentukan. Setahu saya tidak ada batasan bagi bidan dalam menentukan ongkos. Misalkan bidan ingin menarik ongkos yang sama seperti halnya dokter obgyn, saya rasa sah-sah saja. Namun masalahnya, apakah ada pasien yang mau membayar semahal itu? Pasien mau membayar mahal ke spesialis obgyn karena mereka yakin dokter obgyn mampu menangani segala permasalahan persalinan jauh lebih baik daripada bidan karena kenyataannya ilmu yang dimiliki spesialis obgyn jauh lebih banyak daripada bidan. Anda sendiri yang mengatakan bahwa di New Zealand, yang bersalin normal ditolong bidan, yang komplikasi ditolong dokter. Saya rasa di Indonesia juga seperti itu aturannya. Yang jadi masalah utama yang saya bahas disini adalah justru banyaknya bidan yang membuka praktek pengobatan layaknya dokter. (Bahkan pengobatan penyakit diluar lingkup persalinan)

5. Saya tidak mengerti dengan kalimat anda : “karena di negara kita banyak kecemburuan sosial yang terjadi. Isu gender pun mulai berkembang karena dokter banyak yang laki-laki, sementara bidan banyak yag perempuan”.

Apakah anda bisa menjelaskan lebih rinci tentang isu gender yang anda katakan? Saya tidak melihat adanya isu gender untuk menjadi seorang dokter. Artinya untuk menjadi dokter tidak ada hubungannya dengan gender. Dokter perempuan juga sangat banyak. Tapi bidan justru spesial dimana bidan hanya dapat dipegang oleh wanita, bukankah itu justru menguntungkan bagi kaum wanita?

Riza Paramayudha mengatakan...

6. Anda bilang bidan yang berkualitas juga harus punya keterampilan lain. Ya memang betul bahwa kemampuan tambahan seperti menyetir dapat memberi nilai plus karena artinya bidan tersebut mampu membawa pasiennya ke dokter atau rumah sakit terdekat apabila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Namun itu hanyalah nilai plus, bukan mencerminkan kualitas dari seorang bidan.
7. Saya tidak mengerti apa maksud anda menuliskan kalimat ini : “di negara lain biasa seorang dokter bisa menjadi penyanyi, bankir, selebritis.”
Memangnya apa hubungannya dengan topik yang saya bicarakan?
Apa kaitannya dengan bidan?
Memangnya bidan tidak bisa jadi penyanyi, bankir, ataupun selebritis?
Tentu saja bisa...

8. Di Afrika, ada dokter yang menyuruh perawat melakukan operasi. Adakah sumber berita tersebut? Jika memang itu benar-benar terjadi, menurut pandangan saya, karena di Afrika mungkin dokter sangat jarang, jadi terpaksa menyuruh perawat melakukan operasi, namun tetap saja sebenarnya itu tidak diperbolehkan. Apakah pemerintah Afrika secara resmi melegalkannya? Dan apakah pembolehan ini tidak menuai protes di dunia internasional? Jika menuai protes, itu artinya memang sebenarnya perawat tidak boleh melakukan operasi karena setahu saya perawat tidak diajarkan bagaimana mengoperasi, namun diajarkan bagaimana untuk membantu dokter saat operasi.

9. Mengapa anda mengatakan hukum di indonesia sangat baik dalam pembuatan undang-undang yang memihak dokter? Apa dasarnya? Bagaimana bunyi undang-undang yang menurut anda memihak dokter? Apakah hukum di Indonesia di tentukan oleh IDI ? Setahu saya IDI hanyalah sebuah ikatan antar dokter se-indonesia.
10. Ya memang benar bidan juga mengenal antibiotik, namun itu sifatnya sebagai pertolongan pertama bila terjadi kasus dalam persalinan dan bukan bersifat pengobatan. Apalagi pengobatan diluar masalah persalinan yang justru banyak dipraktikan bidan-bidan di sekitar tempat tinggal saya. Akibatnya obat yang diberikan tidak tepat sama sekali. Salah satu contoh yang saya temui adalah adanya pasien yang periksa ke bidan, setelah di tensi, ternyata tekanan darahnya rendah. Lalu apa yang terjadi? Bidan tersebut memberikan obat penambah darah ! Bidan tersebut mengira tekanan darah rendah itu disebabkan karena kurang darah (Anemia) ! Anemia dan tekanan darah rendah adalah 2 hal yang sangat berbeda. Bahkan seseorang yang anemia pada saat yang sama bisa pengalami tekanan darah tinggi. Memang pemberian obat penambah darah tidak terlalu fatal sepertinya, namun jelas obat yang diberikan sangat tidak tepat.

11. Itulah resikonya sekolah. Tidak hanya bidan kok, dokter pun dapat dituntut bila pasiennya meninggal. NAMUN, bidan maupun dokter hanya dapat diadili apabila ia terbukti melakukan hal yang tidak sesuai prosedur. Nah karena itulah, apabila ada bidan yang membuka praktek pengobatan, itu jelas tidak sesuai prosedur, bahkan tidak seharusnya bidan mengobati penyakit, karena itulah bidan tersebut justru dapat dengan mudah dituntut karena melakukan lal praktek.
Saya sendiri, sebagai seorang engineer, apabila dalam bekerja saya menyebabkan kecelakan, dan apa yang saya lakukan diluar prosedur, tentu saya dapat diadili. Contoh lainnya, misalkan seorang engineer teknik sipil, apabila terbukti dia salah dalam perhitungan sehingga bangunan yang dibangun roboh tanpa alasan yang jelas, maka dia dapat dituntut. Namun bila tukang yang membuat rumah berdasarkan pengalaman saja, lalu rumah yang dibangunnya roboh, tentu saja tukang tersebut tidak dapat dituntut. Karena dianggap yang salah justru yang punya rumah, kenapa kok mau hanya menggunakan jasa tukang untuk membangun rumah, padahal tukang tidak melakukan perhitungan kekuatan material layaknya orang dari teknik sipil.
Jadi kalo ada pasien priksa ke dukun, ya jelas dukun tersebut tidak dapat dituntut, karena itu adalah adalah pilihan pasien itu sendiri. Sudah tau dukun itu tidak ada sekolahnya, lha kok mau priksa ke dukun. Namun saat seseorang menempuh jalur pendidikan untuk menjadi seorang profesional, tentu saja ada tanggung jawab terhadap pekerjaannya.

Riza Paramayudha mengatakan...

12. Terkait otonomi daerah, itu juga sudah saya tuliskan dalam tulisan saya. Karena itu saya sangat menyayangkan keputusan pemerintah tersebut. Namun jumlah dokter memang terlalu sedikit. Karena itu pemerintah terpaksa memperbolehkan bidan untuk memberikan obat-obatan yang sederhana untuk membantu dokter. Namun yang perlu digaris bawahi adalah bidan tersebut hanya diperbolehkan melakukan hal semacam itu di puskesmas/poskesdes, BUKAN melakukan di rumah dan sudah pasti itu tanpa izin dari dokter. Dan sekali saya tekankan, yang jadi permasalahan adalah banyaknya bidan-bidan yang membuka praktek pengobatan di rumah masing-masing layaknya seorang dokter. Disitulah kesalahannya. Padahal ilmu yang dimiliki bidan sangat tidak mencukupi untuk mengobati berbagai macam penyakit. Karena itulah, dokter tetap bertanggung jawab atas tindakan yang dilakukan bidan di puskesmas karena bidan hanya bersifat membantu sedangkan yang sebenarnya memiliki wewenang mengobati adalah dokter.

13. Saya juga tidak mengerti dengan kalimat anda : “yang menjadi dilema saat ini adalah pemberian obat pada keluarga maupun tetangga, perawat juga ada yang seperti itu. belum lagi tentang jampersal, maupun persalinan gratis, itu merupakan bukti bahwa wanita Indonesia masih berada di bawah garis kemiskinan, disamping banyaknya laki-laki yang tidak mau bekerja, banyaknya waria mengaku lebih suka jadi wanita ketimbang pria karena kerjaannya cuman berdandan. kalau ditanya pasti tidak ada yang mau merasakan sakitnya haid dan melahirkan.itulah sebabnya jumlah laki-laki makin berkurang”

Apa hubungannya dengan topik yang saya bicarakan? Bahkan kenapa tiba-tiba membahas waria yang lebih suka menjadi wanita? Lalu apa hubungannya antara banyaknya wanita yang dibawah garis kemiskinan, laki-laki yang tidak mau bekerja, dan waria yang suka menjadi perempuan dengan jumlah laki-laki yang makin berkurang?

Riza Paramayudha mengatakan...

Saya tunggu komentar anda berikutnya..
Terima kasih atas komentarnya..
:-)

liesa mengatakan...

Sangat menantang yach opini anda ttg pelanggaran oleh bidan,tpi saya jg minta pendapat anda ttg pelanggaran oleh dokter...jdi adil kan??

Riza Paramayudha mengatakan...

Ide yang bagus sekali, ditunggu ya...
Terima kasih sudah baca-baca blog saya..
:-)

Anonim mengatakan...

wah kata-kata ini perlu dikoreksi nih mas!
"Mereka (Bidan) hanya pura2 menempelkan stetoskop ke dada pasien, padahal mereka sendiri tidak tau apa yang harus didengar dan mereka tidak tau suara yang khas dari suatu penyakit..."
bidan mempelajari ilmu-ilmu kedokteran juga. anda tahu dari mana kalo bidan tsb tidak tahu mana yg harus di dengar? bidan juga belajar ilmu pemeriksaan fisik layaknya dokter mas. anda menuntut org lain untuk berkomentar berdasarkan sumber, tapi anda sendiri subjektif.
untuk hal bidan tidak boleh mengobati mungkin anda bisa membaca kumpulan permenkes ttg praktik bidan. bidan desa bisa melakukan pengobatan pertama untuk penyakit pd ibu hamil. lain aturannya dengan yg bukan bidan desa. kalau memang yg anda lihat itu bukan bidan desa, sy setuju. harusnya memang dia tidak boleh memberikan obat2an

Anonim mengatakan...

yang tidak saya setuju adalah statement anda lainnya yg merendahkan pendidikan kebidanan. bidan belajar farmakologi juga kok, fisiologis dan anatomis tubuh manusia, bahkan sampai ginekologi. ilmu2 ini bidan gunakan untuk dapat mendeteksi kegawatdaruratan secara dini serta pertolongan2 pertama sebelum merujuk. bukan untuk pengobatan. bidan tidak hanya belajar seputar ilmu kebidanannya saja. bidan juga belajar mendiagnosis penyakit. jangan asal bicara bidan tidak mempelajari itu

Anonim mengatakan...

kuliah kebidanan cuma ada sampai D3?
S2 kebidanan udah ada dari dulu kaleeee.. hahaha
ni org konyol abis

Riza Paramayudha mengatakan...

Terima kasih atas kritiknya...
Ini yang saya tunggu-tunggu..
Semoga menjadi pelajaran bagi diri saya pribadi untuk lebih bijak dalam membuat posting di blog saya ini.
:-)

Setelah saya pikir-pikir, memang ada benarnya juga bila kalimat saya sendiri masih mengandung unsur-unsur kesubyektifan. Saya mohon maaf sebesar-besarnya atas ucapan saya tersebut. Nanti saya ralat ucapan saya di posting ini.

Setelah cari info sana-sini, memang benar seperti yang anda katakan, bidan juga mempelajari ilmu farmakologi, fisiologis dan anatomis tubuh manusia, ginekologi, dan lain-lain. Tapi yang saya tidak tahu, seberapa jauh mereka mempelajari hal itu? Apakah sama dalamnya dengan dokter? Dengan bekal pendidikannya itu, apakah cukup bagi bidan untuk melakukan dignosis berbagai macam penyakit diluar penyakit yang berhubungan dengan kandungan? Bisakah anda menjawabnya?

Yang mengenai stetoskop itu, saya minta maaf bila tulisan saya tersebut mungkin menimbulkan arti yang lain. Bukan maksud saya bidan itu sama sekali tidak dapat menggunakan stetoskop. Bidan memang bisa menggunakan stetoskop, tapi setahu saya itupun untuk mendeteksi masalah-masalah dalam kandungan ibu. Karena itu saya hanya mengambil contoh sederhana dimana keluhan pasien adalah batuk. Lalu, apakah bidan juga juga diajarkan untuk mendeteksi berbagai jenis batuk dengan stetoskop? (jenis-jenis batuk yang mungkin tidak ada hubungannya dengan kandungan dan tidak membahayakan janin).
Mungkin perlu saya klarifikasi dengan teman saya yang seorang bidan, sejauh mana ia memperoleh ilmu penggunaan stetoskop untuk mendeteksi suatu penyakit. Bila ternyata stetoskop tersebut hanya digunakan sebatas untuk permasalahan kandungan, maka artinya bila ada pasien dengan keluhan yang bukan berasal dari kandungan dan bidan tersebut menggunakan stetoskop untuk berusaha mendiagnosisnya, tidak salah dong kalau saya bilang bidan itu hanya pura-pura?

Saya sangat setuju dengan pendapat anda, bidan memang diajarkan mendiagnosis, tapi ya itu tadi, setahu saya yang diajarkan adalah mendiagnosis penyakit-penyakit yang berpotensi mengganggu kehamilan/kandungan dan seperti yang anda katakan bahwa bidan akan melakukan pengobatan/pertolongan pertama yang pada akhirnya akan dirujuk ke dokter untuk mendapat penanganan lebih lanjut. Kecuali untuk kelainan ginekologik ringan seperti keputihan, penundaan haid,dan pendarahan tidak teratur, bidan masih memiliki wewenang untuk mengobatinya.

Masalah D3 itu begini, kan saya itu hanya menanggapai pernyataan dari salah satu pembaca saya bahwa bidan hanya sampai D3. Disitu saya sendiri sudah mengatakan, saya juga kurang mengerti mengapa hanya perlu D3 untuk bisa menjadi bidan. Karena itu saya berkata mungkin untuk menjadi bidan memang hanya diperlukan pendidikan cukup sampai D3 saja. Tapi saya tidak menyebutkan bahwa bidan itu mentok sampai D3 kan? Saya juga tahu kalo bidan bisa sampai S2. Singkatnya, untuk bisa bekerja dan praktik sebagai bidan, pendidikan yang harus terpenuhi minimal D3.
Yang berkata "cuma sampai D3" bukan saya, tapi pembaca saya itu.

Namun begitu, meskipun telah menempuh pendidikan S2 kebidanan sekalipun, bidan tersebut tetap saja tidak memiliki kompeten untuk mengobati berbagai jenis penyakit seperti halnya dokter.

Mengenai bidan desa, setahu saya itu memang program pemerintah untuk menyebarkan bidan ke desa-desa pelosok yang mungkin tidak bisa terjamah oleh dokter. Hal ini memang menjadi kontroversi dinegara ini dimana ada pertentangan antara ketidakcukupan kompetensi bidan dalam mengobati berbagai macam penyakit dengan kebutuhan kesehatan masyarakat di desa itu sendiri.

Riza Paramayudha mengatakan...

Sebenarnya saya sendiri juga masih menyetujui akan hal ini. Saya pernah melihat program televisi (lupa nama programnya apa) dimana ada seorang bidan yang harus bekerja keras untuk memberikan bantuan pengobatan dari suatu desa yang sangat terpencil dimana desa tersebut terdiri dari pulau-pulau kecil dan antah berantah. Lokasinya sangat sulit, sehingga satu-satunya sarana bahkan hanya kapal kecil. Kota juga sangat jauh dari situ.
Disitulah beliau berusaha semampunya untuk mengobati berbagai penyakit penduduk setempat. Saya sangat salut dengan perjuangan beliau dan niat mulianya.

Tapi sekarang masalahnya berbeda disini. Di kabupaten Tegal sendiri jumlah dokter sudah cukup banyak meskipun memang tidak tersebar merata. Di beberapa kecamatan dan desa juga sudah mulai bertambah jumlah dokternya dan transportasi disini relatif mudah (kecuali yang daerah gunung).
Apakah bidan desa berlaku di tempat-tempat seperti ini?

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 900/MENKES/SK/VII/2002
TENTANG REGISTRASI DAN PRAKTIK BIDAN, pasal 17 :
"Dalam keadaan tidak terdapat dokter yang berwenang pada wilayah tersebut,bidan dapat memberikan pelayanan pengobatan pada penyakit ringan bagi ibu dan anak sesuai dengan kemampuannya."

Inilah yang menurut saya menjadi salah satu penyebab masalah ini karena di pasal tersebut hanya dikatakan "wilayah" dimana wilayah tersebut sangat abstrak, apakah sebatas RT, atau RW, atau desa, atau kecamatan, atau mungkin menggunakan radius misalkan minimum 5 kilometer.
Bila merujuk pada istilah bidan desa, mungkin saya lebih cenderung berpikir bahwa bila dalam desa tersebut tidak ada dokter, kewenangan bidan desa tersebut baru berlaku. Kenyataannya? Disini, meskipun di suatu desa sudah ada dokter, bidan tetap saja melakukan praktik pengobatan.

Saya tunggu tanggapan anda berikutnya.
Terima kasih
:-)

Riza Paramayudha mengatakan...

Saya baru menyadari, saya mendapat pesan via facebook mengenai tulisan saya ini. Pesan ini berasal dari DN. Berikut isinya:

"Yth Riza Paramayudha stlh sy membaca bloc yg anda bwt yg intix tntg profesi bidan dan dokter, anda mengatakan bhwa sekolah bidan it umumnya swasta dan anda blm pernah tw sekolah kebidanan negeri, sy kuliah d kebidanan negeri knp?, goblok bgt sich kamu bwt bloc kok bego', sy diajari anatomi&fisiology, serta farmakology, pathology dll, yg intix bidan jg bs mengobati tp tidak diberi wewenang untk mengobati. Mangkax kalau bwt blog it brdasarkan bukti yg akurat dlu jgn asal gamblang ng0m0ng aja. Biar anda tau jd bidan it gmana? Anda masuk aja jurusan kebidanan krn anda pantasx jadi bidan bkn jd teknisi."

Riza Paramayudha mengatakan...

Lalu atas pesan itu saya menjawab:

"Nah, terima kasih sudah memberitahu saya kalo ada sekolah bidan yang negeri. Saya kan tidak bilang tidak ada, tapi saya bilang saya tidak pernah tahu ada sekolah bidan yang negeri karena memang saya belum pernah tahu dan melihat sendiri ada sekolah bidan yang negeri.

Iya saya tahu anda belajar semua itu, tapi pertanyaan saya, apakah ilmu yang anda pelajari itu benar2 mendalam dan menyeluruh (sama persis seperti dokter)? Pernahkah anda membandingkannya dengan apa yang dokter pelajari?
Dan saya juga sudah mengatakan bahwa bidan memang bisa mengobati namun lebih spesifik ke arah penyakit dalam bidang kebidanan dan sifatnya hanya sebagai pertolongan pertama.

Saya tidak perlu menjadi bidan untuk tahu, tapi saya cukup mengenal seorang dokter dan seorang bidan, untuk kemudian bertanya pada mereka tentang sejauh mana kompetensi mereka dalam mengobati berbagai macam penyakit.

Disisi lain, anda mengatakan sendiri bidan tidak diberi wewenang untuk mengobati. Jika memang anda merasa bahwa bidan mempelajari setingkat seperti halnya dokter, kenapa tidak protes ke pemerintah saja secara massal dengan sesama bidan untuk menuntut hak mengobati. Dan kalau memang kompetensi bidan dengan dokter sama dalam mengobati penyakit, harusnya tidak ada yang namanya bidan, sekalian aja semua disebut dokter.

Dan saya justru makin merasa benar dengan apa yang saya katakan di blog saya, karena anda sendiri mengatakan bahwa bidan tidak memiliki wewenang untuk mengobati, kenyataannya di desa saya justru banyak yang praktik pengobatan. Bagaimana tanggapan anda sebagai bidan terkait kejadian ini?
Apakah anda sendiri nanti bila sudah menjadi bidan akan membuka praktik pengobatan?

Saya memang goblok kok mbak, makanya saya sekolah, makanya saya nanya sana sini untuk mencari tahu. Kalo saya sudah pintar, saya ga usah sekolah, ga usah kuliah, langsung kerja aja.

Terima kasih sudah baca blog saya.

Riza Paramayudha mengatakan...

"Dan lagi saya bukan teknisi mbak, saya calon insinyur." (Insya Allah)

Teknisi dengan insinyur juga jelas berbeda kompetensinya meskipun sama-sama bergelut dalam dunia teknik. Dan saya rasa begitu juga antara bidan dengan dokter.

Riza Paramayudha mengatakan...

DN menjawab :

"insyaAllah jika sy ud lulus sy akn membantu org2 di desa.........."

Riza Paramayudha mengatakan...

Lalu, saya menjawab:

Nah itu dia, kebanyakan bidan praktek pengobatan di desa-desa dengan alasan membantu penduduk setempat, padahal terkadang di desa itu sudah ada dokter yang tentu memiliki wewenang untuk mengobati. Dan tentu anda seharusnya tahu, kepmenkes RI nomor 900/MENSKES/SK/VII/2002 menyatakan bahwa :
"Dalam keadaan tidak terdapat dokter yang berwenang pada wilayah tersebut, bidan dapat memberikan pelayanan pengobatan pada penyakit ringan bagi ibu dan anak sesuai dengan kemampuannya"

Lalu, bila di desa anda sudah ada dokter, apakah anda masih akan "membantu" orang2 di desa itu? (Membantu dalam artian memberikan pelayanan pengobatan"
Jika iya, itu artinya anda akan melanggar aturan yang ada dan dapat dikenai sanksi.
Dan itulah yang terjadi dimana-mana.
Semua orang berkelit dengan alasan membantu.
Namun yang saya temukan, sebenarnya alasan mereka lebih ke arah materi.

Tapi tentu saya akan sangat bangga pada anda bila anda benar2 ingin membantu orang-orang di desa yang memang benar2 kesulitan untuk memperoleh pelayanan dari dokter. Atau bisa juga anda membantu namun dalam hal persalinan karena memang itu tugas anda sebagai bidan nanti.

Dan perlu anda tahu, salah satu orang yg membuat saya salut justru seorang bidan. Beliau orang luar negeri yang menetap di Bali untuk benar2 membantu masyarakat setempat dalam persalinan. Bahkan beliau tidak memungut tarif sama sekali. Sehingga pasien benar2 membayar sesuai dengan kemampuannya. Bahkan dengan hasil pertanianpun sering ia terima. Beliau bernama Robin Lim. Bahkan beliau bekerja sesuai kompetensinya. Saya tidak mendengar beliau melakukan pelayanan pengobatan karena beliau tahu betul batasan antara bidan dengan dokter. Dan karena itulah beliau menjadi nominator Top 10 CNN Heroes.

Dan saya harap anda justru bisa meniru beliau jika memang anda ingin membantu orang-orang di desa.

Ketika suatu profesi dijalankan sebagai mestinya, maka profesi itu akan menjadi sesuatu yang luhur nilainya. Namun saat profesi tidak dijalankan sebagaimana mestinya, maka hancurlah martabatnya.

Riza Paramayudha mengatakan...

DN menjawab :

"AMINN"

Riza Paramayudha mengatakan...

Saya menjawab :

"Loh, jangan amin aja mbak. Ini saya perlu klarifikasi, mbak itu niat mbantu orang-orang di desa sesuai kompetensi mbak sebagai bidan layaknya Robin Lim atau justru seperti bidan-bidan di tempat tinggal saya yang secara ilegal memberikan layanan pengobatan dengan berkedok membantu orang desa namun sebenarnya lebih mengarah ke keuntungan materinya?

Dan saya justru perlu tahu, bagaimana menurut anda dengan bidan-bidan yang memberi pelayanan pengobatan seperti di tempat tinggal saya dimana di desa tersebut justru sudah ada beberapa orang dokter?"

Riza Paramayudha mengatakan...

DN menjawab :

"kalo berobat di dokter kan mahal... aku tadi pelajaran farmakology kayag dokter juga kok"

Riza Paramayudha mengatakan...

Saya menjawab :

"Wah, mahal bukan berarti menjadi alasan bagi bidan untuk "membantu" dalam bidang pengobatan.
Mbak ada pelajaran kode etik bidan kan?
Silahkan mbak tanya sama dosen mbak, apakah dibenarkan dalam kode etik bidan untuk membantu orang desa dalam pengobatan dengan alasan "Kasian kalo priksa ke dokter mahal".
Sekilas niatnya terlihat baik, namun itu justru melanggar kode etik.

Farmakologi memang anda pelajari, tapi apakah benar farmakologi yang anda pelajari sama dalamnya seperti dokter?

Kalau mbak memang merasa bisa mengobati, saran saya justru sangat gampang, mbak beli buku tentang soal2 tes UKDI (Uji Kompetensi Dokter Indonesia), disitu mbak akan menemui beberapa kasus, mbak harus bisa mendiagnosis dan memberikan obat dengan dosis yang tepat, jika anda memang mampu menjawab 50% saja deh dari soal2 yang ada, saya akan meralat omongan saya di blog. Berani?"

Riza Paramayudha mengatakan...

DN menjawab :

"aduh ngpn sich ngurusi bidan n dokter kamu"

Riza Paramayudha mengatakan...

Saya menjawab:

"Haha.. Itu artinya anda kalah, anda tidak bisa membuktikan bahwa bidan mampu melakukan hal yang dilakukan dokter
karena itulah saya tulis di blog, itu justru berdasarkan bukti yang kuat
Semua bidan yang saya tantang, semuanya menghindar seperti anda
Karena saya yakin, anda sendiri sebenarnya tahu sebatas mana kemampuan anda"

Riza Paramayudha mengatakan...

DN menjawab :

"ya"

Riza Paramayudha mengatakan...

Saya menjawab:

"Bagus jika anda mengerti, dan saya berharap anda tidak melakukan "membantu" orang di desa dalam hal pengobatan selain dengan alasan yang memang diperbolehkan oleh peraturan. Jika anda berniat "membantu" karena dengan alasan "tarif ke dokter lebih mahal", lihat saja, nama baik bidan justru akan menjadi tercemar. Seperti halnya polisi yang sekarang namanya sudah tercemar karena begitu banyak oknum yang seharusnya menegakkan keadilan, namun justru menerima suap."

"Dan saran saya, justru sebelum anda bilang bego ke orang lain, pahami dulu inti permasalahannya, karena yang bermasalah justru bukan saya, tapi yang bermasalah adalah mayoritas bidan yang ada di Indonesia
Dan saya memberitahu pada semua orang akan penyimpangan ini
Poinnya adalah, ketika anda merasa mampu seperti halnya dokter, itu sudah salah, karena itu berarti anda belum memahami kompetensi anda sendiri sebagai bidan. Kalo mau lebih percaya lagi, cobalah pergi ke Bali, dari Jawa timur deket kan, ketemu sama Robin Lim, lihat baik-baik apa yang dia lakukan. Terima kasih."

"Salah satu contoh soal UKDI:

1. Seorang perempuan berusia 32 tahun yang menderita diabetes mellitus tipe 1 mengalami gagal ginjal progresif dalam kurun waktu dua tahun terakhir. Dialisis belum dilakukan pada pasien ini. Pemeriksaan fisik tidak menunjukkan tanda-tanda abnormalitas. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan kadar hemoglobin = 9 g/dl, hematokrit = 28 %, m3. Apus darah tepi dan MCV 94 normositer dan normokromik.mmenunjukkan sel-sel eritrosit Manakah jawaban di bawah ini yang paling mungkin sebagai penyebab kondisi pasien tersebut ?
A) Perdarahan akut
B) Leukemia limfositik kronik
C) Anemia Sideroblast
D) Defisiensi erythropoietin
E) Defisiensi enzim eritrosit

Bisa anda jawab?"

Riza Paramayudha mengatakan...

DN menjawab:

"males"

Riza Paramayudha mengatakan...

Saya menjawab:

"Bukan males, tapi anda memang tidak mampu
Karena anda tidak memiliki kompetensi itu"

Riza Paramayudha mengatakan...

Itulah percakapan yang saya lakukan dengan calon bidan yang kini sedang menempuh pendidikan kebidanan.

Jika memang bidan merasa mampu memberikan pelayanan pengobatan seperti dokter, seharusnya bidan tidak akan kesulitan untuk menjawab soal-soal yang di UKDI. Di internet juga banyak kok contoh-contoh soal UKDI. Dan itulah contoh kasus-kasus nyata yang dialami pasien saat berobat ke dokter. Jadi jangan dikira mudah untuk mendiagnosis penyakit, belum lagi dokter harus memberikan pengobatan dengan dosis yang tepat. Jadi meskipun bidan juga mempelajari beberapa hal yang dipelajari dokter, bukan berarti bidan memiliki kompetensi dalam mengobati penyakit karena ilmu-ilmu yang mereka pelajari tidak sedalam apa yang dipelajari dokter.

Karena itulah bidan HANYA diberikan kewenangan untuk mengobati, itupun HANYA dalam kondisi yang amat sangat mendesak dimana di daerah tersebut tidak ada dokter. Ibaratnya, daripada pasien meninggal tanpa ada upaya, lebih baik dilakukan treatment seadanya.

Membantu orang desa dengan alasan "karena biaya ke dokter mahal" itu sungguh tidak daat diterima. Dokter yang biayanya murah juga ada. Bahkan di Kabupaten Tegal, berobat ke puskesmas saat ini tidak dikenai biaya apapun.

Mungkin jika saya analogikan dengan kasus lain, ada seorang pejabat yang korupsi miliaran rupiah dengan alasan "Loh, itu uang korupsi saya bagi-bagikan ke orang-orang di desa saya kok agar mereka lebih sejahtera, karena mereka semua orang susah, makan saja tidak tentu tiap hari", apakah alasan yang dikemukakan pejabat itu dapat kita terima?

Bila anda bidan, sungguh saya harapkan anda mengerti kompetensi diri anda sendiri sebagai bidan dan paham betul undang-undang atau peraturan yang ada. Jangan seenaknya melanggar peraturan dengan modal "ingin membantu orang desa" namun justru dengan alasan yang tidak diizinkan oleh peraturan itu sendiri.

Anonim mengatakan...

wahahaha bidan dah ngobati pasien juga...yo wis aku ga bakal kuliahin anaku bsk di kedokteran toh cukup bidan saja dah bisa kyk dokter baik wewenang dan tugasnya...mgkn diluar sana ketawa juga ya para dokter2 sana...di indonesia dokter ga laku...sejajar sm bidan yg bolh ngobati...batasannya ga jelas negara ini...sy jadi bingung yg bidan mau sejajar sm dokter..yg dokter exlusifkan diri....tp memang tak jelas..di mlembata saja analis lab buka praktik juga mati org 3!!!ini spt tukang gigi vs dokter gigi ya..sm2 buka praktik ngobatin juga...memamg kacau negara ini ga jelas..ga jelas.yg jelas bidan "lebih hebat"maunya di negri ini sampai ada s2..jgn2 om mau disejajarkan dgn Spesialis juga bidan yg S2..okelah kl gitu anak sy besok tak kuliahin di kebidanan saja..kedokteran mahal.toh hasilnya tetap sama kan????hahai pisssss.dari rakyat jelata dan cuma petani.

adihari mengatakan...

utk mas dokter Riza,mohon utk posting lain kali agak hati2 agar tak menyinggung banyak pihak,memang benar semua ada porsinya masing2,bidan itu memang benar belajar ilmu dasar kedokteran dan farmasi tp hanya beberapa persen,dokter pun juga begitu memepelajari bebagai macam disiplin ilmu dlm kedokteran presentase porsinya berbeda dgn yg ambil spesialis,dan yg sub spesialis pun porsinya lebih beda,bidan walopun sampai jenjang S2 juga bkn berarti anda lbh hebat dari dokter,krn dokterpun ada S2 nya juga selain ambil spesialisasi penyakit lain,apa kl bidan telah ambil S2 sdh bisa dikatakan bidan spesialisasi obsgyn kan ga juga lalu gmn para spesialis obgyn kl gitu,semua ada tugas dan tanggung jawab masing2 saling mendukung satu sama lain jgn tumapng tindih,cntoh spt sya didesa(maaf komen diatas katanya ga ada dokter menetap di desa tp sy ada tuh terpencil dan betah pula)sy ada byk cntoh kasus spt bln lalu pasien syok anafilatik krn setelah dikasih antibiotik oleh bidan(D3 bukan bidan desa) padahal sdh pasien jelaskan ada alergi antibiotik tertentu toh dikasih juga dgn alasan "mgkn sdh hilang" hampir tewas mas pasiennya kl ga ditolong secepatnya,pasien gigi juga diobati juga mknya sempat marah juga dokter giginya seharusnya dirujuk atw diarahkan ke dokter yg berkompeten jgn asal mau uang masuk saja,mengobati penyakit dan diagnosanya pun hampir salah mas,wah kasihan juga pasien kl sy pikir,ini bukan salah Bidan mas tp mrk hanya ikut senior dulu saja dan peraturan yg ewes-ewes saja,tp lucu juga ya sy pnya pengalaman juga kl sy pakai obat ini pasti bsknya byk yg niru tp sebatas obat yg murah makanya sy rubah ke yg berkwlitas dan original pikir2 juga mrk mas tp yg utama ya mendiagnosa sesuai keilmuan saya serta pelayanan yg memuaskan tentunya..alhamdulillah masyarakat tau kok mas..dokterpun juga gitu bnyak yg punya SIP tp kl dirunut STR pun tak ada dan dinkes seenaknya mengeluarkan SIP (ada apa ini???)okelah sy hargai banget mas Riza memposting masalah ini tp BIROKRASI mas susah dinegara ini..dinkes itu banyak pejabatnya yg notabene perawat dan bidan..kepala puskesmas saja byk yg bukan dokter skrg ini..mas riza posting bagai buih tertelan ombak..benar kata pak petani tadi percuma sekolahkan anak mahal2 di kedokteran toh bidan saja cukup,toh byk skrg dokter umum dan spesialis KERJA dibawah BIdan yg punya Klinik Besar ya toh dan ortunya bidan juga jadi ya percuma mas....tp maaf mas smoga mas posting ini utk kebenaran dan terbuka mata para masyrakat dan bukan krn rejekinya berkurang krn saingannya bidan..rejeki bisa dari mana saja mas dan ada porsi masing2..yg penting lanjutkan kebenaran yg menurut mas riza benar utk kepentingan Bangsa ini smoga makin jelas aturannya dan yg lebih penting utk kesehatan Pasien jadi masing2 harus tahu tugas masing2 dan saling mendukung...bener juga ya mgkn dokter !! Dokter bukannlah DEWA PENGOBAT dan Bidan penyelamat bayi yg ga harus mau jadi DEWA PENGOBAT juga.

Riza Paramayudha mengatakan...

Terima kasih banyak mas Adihari.
Pertama-tama, saya ingin mengklarifikasi bahwa saya bukanlah seorang dokter. Saya adalah mahasiswa S1 teknik fisika.

Iya, maaf bila ada kata-kata yang mungkin masih menyinggung banyak pihak.
Akan menjadi koreksi untuk diri saya pribadi untuk lebih santun dalam menulis artikel.
Namun lepas dari itu, pada intinya saya hanya ingin menekankan mengenai mengapa banyaknya bidan yang merasa mampu mengobati seperti halnya dokter dan saya rasa itu sudah jauh dari kompetensi seorang bidan. Dan sudah tentu, yang sebenarnya dirugikan adalah pasien orang-orang desa yang umumnya tidak tahu betul masalah ini.

Saya sama sekali tidak mengambil keuntungan apa-apa dari posting ini. Saya hanya berniat memberikan informasi mengenai penyimpangan ini pada pembaca blog saya. Karena susah bagi saya untuk menyuruh para oknum tersebut berhenti melakukan penyimpangan tersebut. Jadi saya pikir, satu-satunya jalan yang bisa saya lakukan adalah memberikan informasi ini pada orang lain agar mereka mengetahui apa yang harus mereka lakukan bila butuh pengobatan.

Memang hukum di Indonesia masih lemah dan penegak hukumnya sendiri masih cukup banyak yang justru dengan mudahnya memperjualbelikan hukum sehingga hukum sering menjadi tidak tegas dan tidak jelas.

Mengenai birokrasi, kalau tidak salah saya justru pernah mengetahui hal yang sebaliknya, yaitu mengenai ribet dan lamanya mendapat SIP, padahal sudah ada STR-nya. Biasanya sih ujung-ujungnya duit, kalo ada duit pelicinnya, birokrasi jadi simple.

Joke iklan rokok: "Kalau bisa dipersulit, kenapa dipermudah"
haha...

Anonim mengatakan...

yg mAs tNya kN bKan sMUa cAlon biDan kN ??
Lgian biDan yG ad d dEsa, itu adLh biDan yG sDah LU2s dRI kOmpetSI uTK mNdpAtkN SIB (srAT iZin bDan).... jGn sLAh y mAs, biDan jGA d AjrkN bBrpA pNYkiT uMum n pNtlKsNaAan uTK pNykiT tSb..
kTiKA mHsiSwA d tRjun kN k LPnGan, yG d Ajr kN d LpNgan bKan hNyA mSLah pRsLInAn, pi jGa pNyakiT2 uMum (mis : DM, hiperTensi, dll). mLAh dOkter sNDri yG mNGjArkAn. jdi, kRanG Lbih gJaLa n oBAt uTk mNaNgAni pAsiEn kTa jGa bSa dPAt kN....
mSaLah "sTetOskop" wKtu pRktek, kTa jGa d Ajr kN mNdGR kN sUarA nAfAs d dAdA nYA, n d AjrKn uTk mMbdAkAn sUArA nA.. jdi mNgGnaKan aLt tSb bKan hNyA aSaL...

Anonim mengatakan...

msLAh "sTetOskOp", mKsUd nYa ...
pDa sAat pSieN bTuk yG dTg, kTA sBGai mHsiSwa biDan, jGa d aJr kN uTk mMbdAkAn suArA naFas nYa..... jDi jGn aSL bLg mNgGnKan nYA dGn sMbrAnGan ....

Anonim mengatakan...

jangan salah mahasiswa bidan juga diajari untuk mendiagnosis penyakit,contohnya aja dalam status pasien ada diagnosa kebidannya.

Riza Paramayudha mengatakan...

Terima kasih untuk komentarnya.
Tapi tolong dong, kalau nulis jangan lebay gitu (huruf gede-kecil dan singkatan yang tidak wajar), membuat sulit untuk dibaca.

Baiklah, nanti saya ralat yang mengenai stetoskop itu.
Memang benar bidan diajarkan mendiagnosis penyakit-penyakit secara sangat general karena bagaimana pun juga bidan harus memperhitungkan apakah sang ibu berada dalam kondisi aman untuk melahirkan secara normal atau tidak.

Misalkan seorang ibu yang sedang menderita hipertensi, maka tentu sangat beresiko bila ibu tersebut melahirkan tanpa perlakuan khusus.
Begitu juga dengan diabetes, akan meningkatkan resiko persalinan.
Nah, disitulah bidan memang perlu mengerti beberapa penyakit yang berpotensi membahayakan ibu dan anak.
Tapi, bukan berarti bidan tersebut memiliki wewenang dalam mengobati.
Apalagi untuk penyakit-penyakit diluar yang membahayakan persalinan.

Begitu juga untuk kesehatan bayi dan balita, bidan memang harus memiliki pengetahuan dasar mengenai berbagai penyakit sederhana agar dapat menentukan apakah bayi/balita tersebut sehat atau tidak, bila tidak, seharusnya bidan tersebut juga kemudian merujuknya ke dokter.

Masalahnya disini adalah, banyak sekali bidan yang berusaha mengobati penyakit itu, padahal seharusnya setelah bidan mendiagnosis adanya penyakit (misalkan hipertensi atau diabetes) maka bidan tersebut seharuskan merujuk ke dokter.
Padahal pengetahuan bidan dalam pengobatan penyakit tidak cukup mumpuni.
Karena itu saya ambil contoh, pernah ada seorang pasien didiagnosis bidan mengalami darah rendah, tapi bidan tersebut tidak merujuknya ke dokter, lalu bidan tersebut berusaha mengobati darah rendah pasiennya itu, dengan cara memberi obat penambah darah?
Bukankan itu menunjukkan betapa minimnya pengetahuan bidan dalam pengobatan penyakit?

Karena itu, permasalahan utama yang saya bahas dalam artikel yang saya tulis ini adalah maraknya bidan yang praktek pengobatan, sedangkan bidan tidak memiliki cukup kompetensi dalam hal itu.

Karena itu, bila anda memang merasa mampu mendiagnosis berbaagai macam penyakit, mampu memberikan obatnya, silahkan anda mencari soal-soal UKDI di internet, coba anda kerjakan sendiri, mampu atau tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada disana dengan benar. Bila anda mampu, maka saya rasa anda setara dengan dokter dan saya setuju saja bidan membuka praktek pengobatan. Tapi bila tidak mampu, seyogyanya bidan memahami sejauh mana kompetensi yang dimilikinya.

Anonim mengatakan...

Setelah membaca komentar sebelumnya, knp jd meributkan masing2 profesi?
Tolong diperhatikan lagi, dalam Permenkes mengenai pemberian obat oleh bidan. Bidan memang tidak berwenang memberikan pengobatan, namun ada beberapa obat yang boleh dimiliki bidan yang boleh digunakan hanya dalam keadaan darurat saja. Walaupun bukan wewenang bidan untuk memberikan pengobatan, kita harus melihat situasi dan kondisi dimana kita bekerja, kalau kita tinggal di pedesaan yang tidak ada dokter atau jauh dari fasilitas kesehatan yang ada dokternya, bidan boleh memberikan pengobatan, namun pengobatan yang diberikan olah bidan hanya pengobatan dasar saja.
Jika seorang bidan bekerja di tempat yang dekat ke fasilitas kesehatan yang ada dokternya, bidan harus merujuk orang yang akan melakukan pengobatan ke dokter.

Terima kasih

Riza Paramayudha mengatakan...

Yup, saya sangat setuju dengan anda...
Karena itu saya menulis tulisan ini, karena banyaknya oknum bidan yang tetap memberikan pengobatan kepada pasien, meskipun di sekitar tempat tersebut sudah ada dokter atau fasilitas kesehatan yang ada dokternya (contoh: Puskesmas).

Terima kasih atas komentarnya.

Anonim mengatakan...

low bukan bidangnya g sah sok tau dech mas,,
kita dah ada garisnya sendri, mana dokter dan mana bidan, smua dah da ketentuannya, dan KAMU g sah pusing-pusing mikirin wilayah mereka, urusin ja pa yang u jalanin saat ni,,
..
oia low u masih ragu ma yang namanya bidan, q cuman mo ngasih saran ja, bsok low istri u ngelahirin jangan sampai di bidan, ntar kena mal praktek agy,,,
like u say on ur blog..

Anonim mengatakan...

Semua ini bukan karena profesinya...jgn diliat dr profesinya saja... Ini krna pribadi masing2, n g kan sama pada stiap org (bidan) di sekolah bidan kami diajarkan etika dan hukum juga, disitu diajarkan sejauh mana kewenangan bidan... , tp memang ada BEBERAPA bidan yg menyalahgunakan kewenangan... Sekali lg jgn liat profesinya, tp it murni trgntg pribadi masing2... Knp hny bidan yg dpersalahkan... Posting maz it trlalu menjudge bidan, Kalau memang maz menemukan adanya penyalahgunaan kewenangan maz bisa laporkan hal itu minimal ke IBI atau ke dinas kesehatan setempat... Pazti akn langsung ditindak lanjuti... Terima kasih...

Riza Paramayudha mengatakan...

Loh? Siapa yang sok tahu?
Saya kan baca Permenkes, disitu dituliskan batasan dalam kondisi bagaimana seorang bidan boleh memberikan pengobatan. Dan nyatanya memang banyak sekali oknum bidan yang melanggar peraturan tersebut. Saya kan menuliskan suatu pelanggaran yang marak terjadi, apakah harus menjadi seorang bidan/dokter terlebih dahulu baru boleh mengumumkan mengenai pelanggaran ini?

Loh, kalo istri saya melahirkan dan saya bawa ke bidan, justru itu tidak salah karena bidan memiliki tugas untuk membantu persalinan. Sehingga tindakan tersebut justru bukan mal praktek selama bidan tersebut melakukan tindakan sesuai dengan kompetensi yang dimilikinya.

Maaf, saya memang tidak menuduh semua bidan seperti itu. Masih banyak juga bidan yang tidak melanggar permenkes tersebut. Di dalam tulisan yang saya buat telah saya tuliskan mengenai hal ini. Tapi faktanya, kasus ini sangat marak terjadi di Indonesia. Bahkan saya sempat berdialog dengan calon bidan, dan ternyata beliau tetap punya niatan untuk memberikan praktik pengobatan.

Apa benar bila saya melaporkan maka langsung di tindak lanjuti? Maaf, jujur saya agak pesimis. Kalau anda orang Indonesia, mungkin anda bisa mengerti mengapa saya pesimis.

Saya justru berharap, dengan tulisan ini, semua oknum bidan tersebut jadi mengerti betul sejauh mana tindakan yang boleh mereka lakukan berdasarkan kompetensi yang mereka miliki. Saya juga berharap, para calon bidan juga mengerti sejauh mana pekerjaan mereka nantinya. Saya juga berharap, bila ada orang dari IBI atau dinas kesehatan yang membaca tulisan saya ini, agar segera bertindak lebih lanjut karena hal ini sudah sangat marak terjadi.

Anonim mengatakan...

sekarang apakah salah jika seorang bidan itu mengobati pasiennya????

sekaranng jika ditempat sana ada yang gawat sedangkan fasilitas kesehatan yang paling dekat adalah bidan apakah bidan tersebut akan menolak orang sakit tersebut???
apakah bidan hanya diam, dan cukup memandangnya saja???
dimana hati nurani kita???

semua tenaga kesehatan, dan juga bidan tidak akan melihat pasienya mati didepan matanya, mereka pasti memutar otak untuk mendiagnosa dan memberikan pertolongan secepatnya,,
bukan uang yang menjadi landasannya, namun nyawa yang menjadi prioritas utamanya..

banyak bidan yang setelah melakukan pertolongan persalinan ataupun gawat darurat lainya tidak dibayar.. namun bidan tetap tersenyum..

jika memang ada bidan yang seperti anda madsud tolong tanya pada mereka, apa yang mereka pikirkan [uang atau nyawa] ???

Riza Paramayudha mengatakan...

Nah, kalo kondisinya seperti itu, saya justru sangat setuju kalau bidan memberikan pengobatan. Kondisi dimana pasien sangat membutuhkan bantuan pengobatan namun disana benar-benar tidak ada dokter. Karena itu, hal tersebut juga diperbolehkan secara hukum dengan permenkes. Namun yang perlu diingat, hanya kondisi genting seperti itu saja seorang bidan boleh memberikan bantuan pengobatan.

Permasalahan yang saya angkat disini, bukan mengenai larangan mutlak seorang bidan memberikan pengobatan. Yang saya amati, dibeberapa daerah dimana di daerah tersebut sudah ada cukup banyak dokter dan fasilitas kesehatan (misalnya rumah sakit atau puskesmas), masih ada oknum bidan yang memberikan praktik pengobatan pada pasien yang mendatangi rumahnya.

Kalau masalah hati nurani, justru saya yang ingin bertanya balik pada oknum bidan tersebut. Dengan kompetensi yang mereka miliki, mengapa mereka tetap memberikan bantuan pengobatan, padahal disekitar situ sudah ada dokter yang jelas lebih berkompeten untuk mengobati. Bila seorang bidan benar-benar memiliki hati nurani, sudah seharusnya bidan tersebut menolak bila ada pasien yang datang untuk berobat dan justru merujuknya pada dokter setempat karena menyadari sejauh mana kompetensi yang ia miliki.

mathal mengatakan...

ini kayaknya bidan yang koment tidak mau tahu, tidak mau mengerti seberapa kemampuan dalam kompetensi, saya ketawa liat koment kalo bidan pun diajari mendiagnosa penyakit bahkan yang mengajari dokternya sendiri, namun dokternya pun mendapatkan ilmu dari para spesialis..apakah kemampuan bidan menjadi setara dengan dokter , dan dokter setara spesialis tentu tidak kan? saya juga sedih melihat dalih para bidan, waktu saya jaga igd ada pasien syok anafilaksis karena diberikan antibiotik oleh bidan, tapi bidan itu tidak mengaku, saya tahunya dari pihak keluarga..bahkan dalam kompetensinya bidan pun banyak yang melanggar, seperti nekat melakukan persalinan dengan resiko besar seperti pasien post sc dipaksa lahir pervaginam, begitu ada perdarahan hebat baru dibawa ke rumah sakit. padahal ada aturan dalam menangani pasien post sc tuk melahirkan normal.

Riza Paramayudha mengatakan...

@mathal:
Ya, seperti itulah kenyataan yang terjadi di Indonesia. Tampaknya saya rasa belum ada penegak hukum yang mengoreksi penyimpangan ini.

By the way, saya tidak terlalu mengerti betul permasalahan yang anda kemukakan, namun saya dapat menangkap apa poin pentingnya.

Terima kasih sudah turut berkomentar dalam blog saya.

Anonim mengatakan...

bising

Anonim mengatakan...

tanpa memandang dia bidan ataupun dokter..saya rasa ...,, kerja tim(kolaborasilah) yang tepat dalam hal ini... namun sayang nyaaa... semua berkeegoisan memandang dirinya mampu melakukannya,,,,

mgkin memang benar bidan2 dlu mnjadi bayang2 bidan skarang,, tanpa melihat sberapa kompetennya kami(dalam ini saya juga:) )memberikan pengobatan yang mgkin menjadi hak nya dokter,, namun ... smua itu dikembalikan kepada masing2 pihak,, dari pemerintah yank mungkin sharusnya mningkatkan (mengkhususkan platihan bagi para bidan2 desa) pengetahuan dalam praktiknya.. dan batasan seta tindakan lanjut atas penyimpangan yank mgkin dlakukan(dalam hal ini mgkin sanksi),,,dan penyetaraan persebaran bidan dan dokter di suatu daerah*(terutama desa terpencil), yang saya lihat pmerintah masih memproritaskan bidan di desa, wlopun dokter ada namun jumlahnya tidak memadai(dan maap kadang tidak berada di tempat tugasnya)
dan smua hal juga dkembalikan kppada kpercayaan masyarakat,,pertanyaannya apakah bidan harus menolak saat seorang pasien meminta dan mempercayakan pertolongan darinya??
tidak lain tidak bukan bahwa tugas keprofesian bidan hendaknya disesuaikan di stiap kondisi yang ada..... dan kewenangannya untuk melakukan tindakan :)

dan mgkin mas tidak tahu bahwa skrang da peraturan untuk membuka klinik para bidan diwajibkan memiliki seorang dokter pengawas...

terima kasih blognya mass.. adrenalin saya terpacu mmbaca nya.. terutama komentar anda...:) smoga jadi pelajaran berharga....

Anonim mengatakan...

KARAKTER DIMENSI POSITIF, ITU YANG PERLU

pertama, kajian ini sangat menarik menutut saya. Namun sayangnya penulis terlalu mengesampingkan bahkan memojokan profesi bidan dari kata-kata yang ditulisnya. Misalnya soal stetoskop yang pura-pura ditempelkan di dada pasien. Seorang penulis yang baik walaupun tidak profesional jika ingin menulis di jurnal umum seperti ini harus menguasai dulu etika dalam menulis. Saya tahu hal yang anda angkat ini memang ada di sekitar kita, namun ulasan yang anda tumpahkan di dalam blog pribadi anda ini sama sekali tidak mencerminkan kesopanan dalam menulis.
Soal bebas berpendapat memang dijamin di Indonesia, tapi anda jika memang berani menuliskan hal-hal yang demikian, mengangkat fenomena melenceng masyarakat tentang hak dan wewenang bidan maka angkatlah ke media koran nasional, tidak tanggung-tanggung maka persoalan anda ini akan dapat reaksi luar biasa dari pejabat publik dan masalah linngkaran setan ini mungkin akan terjawab tuntas. Itu tantangan dari saya.....
Membuka forum seperti ini hanya membut situasi pro dan kontra tanpa jalan keluar yang menjanjikan.

Selain itu, kompetensi yang seorang bidan miliki adalah kompetensi yang jelas, begitu juga dokter.
Sekarang saya ajukan pertanyaan pada anda: Manusia yang membuat pangkat/jabatan menjadi mulia atau pangkat/jabatan yang membuat manusia mulia?

Jawab dulu, dari hati anda...

Jika anda memilih pangkat yang membuat manusia mulia maka, apakah titel dokter yang melekat pada seekor sapi dapat mengangkat derajat sapi itu?. Atau jika titel bidan melekat pada seekor kambing dapat mengangkat kambing tersebut menjadi mulia. JELAS TIDAK JAWABANNYA...
Maksudnya, ketika anda mengungkap pelanggaran bidan ini dengan berani (dalam blogg?), maka anda telah berani mengusik sebuah profesi...namun itu hanya sebuah profesi. yang hanya bisa mulia jika disandang oleh manusia.

Intinya, Profesi yang disandang boleh sama namun falsafah hidup, pandangan kepercayaan orang/manusia yang menyandang profesi tersebut jelas TIDAK SAMA. Maka ketika anda bilang dalam tulisan anda Pelanggaran seorang "Bidan" maka anda secara tidak langsung merujuk kepada semua bidan yang ada di indonesia bahkan dunia. Baik bidan itu senior atau junior, jujur atau tidak jujur, bidan yang melakukan pelanggaran atau bidan yang menjaga etika dan haknya. Walaupun maksud anda tidak demikian adanya. Namun tulisan anda ini mungkin dibaca semua kalangan dan tersaji jelas kata-kata yang mengndang reaksi. Taukah anda, alih-alih ingin mengungkap kebenaran di depan publik malah anda sebenarnya sedang memperlebar jurang pemisan antara dokter dan bidan. Saya tekankan sekali lagi, saya buka pemihak antara bidan, dokter atau masyarakat, tapi saya memposisikan diri saya pada dimensi kesetaraan. Jika anda mengungkap hal yang timpang mengapa tidak dikupas sekalian saja, antara dokter dan bidan, agar tidak ada kesan pemihakan dan pemojokan dalam tulisan anda.
Masih ingatkah anda dengan kasus vrita dengan rumah sakit swasta yang diulasnya dalam surat elektronik pada teman-temannya seperti ini?, dimulai dari apa yang anda lakukan sekarang, menuliskannya.

terakhir, anda punya bakat membaca secara kontekstual, namun anda tidak punya karakter pandangan positif, saya yakin anda suka jika orang banyak mengomentari apa yang anda tulis, namun coba kembali pada hakikat menulis yang baik. Maka tulislah secara rinci, jelas, kalau perlu tuliskan siapa nama, alamat oknum yan melanggar tersebut, karena pada dasarnya lebih banyak bidan yang lurus jalan profesinya dari pada bidan yang melenceng, namun karena hal negatif yang banyak diangkat maka tercitralah kesan negatif bagi bidan. Bidan dan dokter sangat baik jika memperhatikan hak dan kewajibannya namun ada yang paling penting lagi, yaitu meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Indonesia. itulah prioritas krusialnya.

Bidan dan dokter sama-sama mempunyai organisasi profesi yang bisa menjadi jalur pengungkap untuk anda. LANJUTKAN atau HENTIKAN...
salam.

Anonim mengatakan...

menanggapi tulisan yang anda posting.
sebagai orang yang bisa membaca situasi. seharusnya anda jangan membaca secara subjektif. bukan hanya bidan tapi tenaga kesehatan lainnya juga, bila tidak ada dokter yang menangani pasien di suatu daerah maka siapapun petugas kesehatan yang ada disitu wajib menangani pasien tersebut karena bila tidak ditangani maka petugas tersebut justru melanggar undang - undang.
seharusnya anda belajar lebih banyak lagi tentang hal yang ingin anda ungkapkan.
jika ingin mengungkap pelajaran kompetensi bidan. anda buka dulu kurikulum sekolah bidan. jadi anda tidak terjebak dengan kata - kata yang anda ungkapkan. bagaikan menjilat ludah sendiri.
sekarang semua tinggal dikembalikan kepada diri anda. sebenarnya niat anda benar tapi cara anda salah dan pandangan anda tentang suatu profesi itu terbatas.
jangan sampai kebebasan anda berpendapat ini mengantarkan anda pada pelanggaran pencemaran nama baik.
ini pelajaran untuk anda bila ingin mengungkap sesuatu yang belum anda ketahui dalam-dalam.
apalagi pernyataan anda bukan tertuju pada satu orang tapi, pada suatu profesi yang notabene sudah diakui dunia internasional.

diambil hikmahnya ya.....

Riza Paramayudha mengatakan...

Terima kasih banyak pada siapapun anda yang telah memberikan kritik yang membangun pada saya. Sekali lagi saya mohon maaf bila masih ada penulisan kata-kata yang mungkin tidak sopan. Sungguh saya tidak bermaksud seperti itu. Tulisan tersebut telah saya revisi pada bagian-bagian yang mungkin saya anggap tidak sopan sebagai respon atas kritik yang anda berikan.

Tentu saya sangat setuju pada anda bahwa manusialah yang membuat profesi menjadi mulia. Namun dengan begitu berlaku hal sebaliknya, manusia bisa menjadikan suatu profesi sangat hina bila tidak dilakukan sebagaimana mestinya. Tidak ada maksud bahwa yang menyimpang adalah profesinya, namun saya ingin lebih menekankan pada oknum bidan yang melakukan penyimpangan tersebut.

Semoga ada hikmah yang bisa saya ambil dan untuk pembaca semua.

Terima kasih.

Anonim mengatakan...

wah.... ngoceh baaaauuuu aja nii

Anonim mengatakan...

Menurut saya, lebih baik semua profesi itu bekerja sesuai peraturan dan kompetensinya . Mau perawat, bidan, perawat gigi, dokter ., apapun bekerjalah sesuai dengan keahlian yang berdasarkan standar kompetensinya .
Jangan mentang2 tau dan merasa ahli, lalu melakukan pengobatan yang bukan wewenangnya .
Jangan juga melakukan pengobatan yang berdasar pada "atas ijin dokter", mentang2 dokternya ngasi ijin trus bebas ngasi2 obat sama orang, tapi ketika ada kesalahan tidak mau bertanggung jawab dan melempar kesalahan k dokter yang ngasi ijin ..
Terus jangan sok inisiatif, mentang2 ga ada dokter, trus berinisiatif bwt ngobatin ato nolongin orang yg jelas2 bkn kmptensi nya ..
Niatnya bagus sih bwt nolong orang, tp apakah pertolongannya benar? Kalo sekedar pertolongan pertama sih wajar2 aja ..
Di daerah saya dulu pernah ada perawat yang sok tau gitu, mentang2 udah lama kerja, mungkin dia menganggap pengalaman dan pengetahuannya cukup untuk mengobati orang selayaknya dokter .. Waktu itu ada orang yang sakit datang k puskesmas, ga tau lah dia sakit apa ! Trus sama si perawat itu d.infus, dan di beri obat . Alhasil, bukannya sembuh, malah tidur selamanya .
Melihat dari kejadian itu, saya pikir alangkah baiknya bekerja sesuai kompetensi masing2 , karena bekerja dalam dunia kesehatan itu sangat beresiko, jangan jadikan penyakit dan nyawa orang itu sebagai mainan yang dapat dimainkan siapa saja ..
Terima Kasih ..

Anonim mengatakan...

menarik bgt komen2nya dri pada isi blognya.............tapi memang perlu ditanggapi dengan lebih bijak

setahu saya seorang bidan praktek madiri itu boleh memberikan obat2 sederhana, klo didalam lingkungan puskesmas memberi obat juga boleh karena dalam naungan organisasi tetapi juga dalam batas-batas tertentu. klo misalnya seorang bidan di suatu desa memberikan obat pastilah obat2 yang sederhana yang masih relevan dengan profesinya, klo masalah diagnosa bidan biasanya tidak mendiagnosa, hanya mengatakan simptom2 apa yang terjadi pada seorang pasien, karea jangankan bidan seorang dokter saja bila melakukan diagnosa tidak sekali periksa, masalah obat2 yang diberikan juga pasti juga obat2 yang umum, untuk masalah antibiotik juga sudah ada aturannya dalam penggunaannya, klo pun ada yag melakukan lebih dari itu semua pastilah oknum bidan tertentu. sebenarnya aturan pemerintah pun jelas tentang wewenang bidan.

Anonim mengatakan...

lain kali jangan sok tau mas...brfikir berkali kali kalo mau bkin tlisan yg memojok kan suatu profesi...

Riza Paramayudha mengatakan...

Lho, kalo saya tidak merasa sedang memojokkan suatu profesi, saya kan hanya memberikan adanya pelanggaran yang dilakukan oknum...

Anonim mengatakan...

blog ne cukup memicu adrenalin saya dan menarik saya buat b'komentar.
saya rasa pelanggaran yg d'lakukan olh para bidan bkn kesalahan dari profesi na tetapi kesalahan personality na.
begitu juga dengan seorang dokter umum atau pun spesialis, pelanggaran yg d'lakukan oleh dokter dan spesialis tu bkn kesalahan profesi mereka ttpi kesalahan personal na.
begitu juga anda yg seorang calon insinyur, jika anda melakukan kesalahan tu bkn kesalahan profesi anda tetapi kesalahan pribadi anda sendiri.

jadi menurut saya blok anda ni menyinggung profesi bkn personality.


seperti yg dikatakan dokter adihari diatas, tiap pelayan kesehatan semuan memplajari ilmu ttg farmakologi, dan ilmu kesehatan umum lain na.
tetapi masimg2 profesi memiliki persen yg tentu na berbeda.
jadi marilah kita bekerja berdasar kan kemampuan dan kompetensi kita masing2.

mungkin niat anda baik, tapi masih perlu dipikirkan tiap unsur na.
saya senang dengan blog anda, tapi saya lebih senang dengan komentar yang ada. tapi saya yakin blog anda ini sedikit banyak na membantu profesi bidan n tenaga kesehatan lain na menjadi lebih baik dlm bekerja.
terimakasih banyak buat blog na, karena dari koment2 yg ada sedikit banyak na membuka pikiran saya dalam memberikan pelayanan.
lw mw buat blog lg hrp hati2, agar tidak menyinggung berbagai pihak.
terimakasih, maaf jika komentar saya kurang berkenan.

Riza Paramayudha mengatakan...

Terima kasih atas masukannya. Ada komentar sebelumnya yang mengatakan bahwa tulisan saya ini bisa diartikan saya bahwa menyalahkan profesi bidan. Karena itu saya telah menyampaikan permintaan maaf saya dan saya meralat judul maupun isi posting dengan menambahkan kata "oknum" yang tentu artinya bahwa ada orang-orang tertentu saja yang melakukan pelanggaran ini. Bahkan dalam posting, saya telah mengatakan kalimat ini:

"Saya tidak mengatakan semua bidan melakukan perbuatan ini, tapi kenyataannya cukup banyak oknum bidan yang memberikan jasa pengobatan dengan cara yang tidak dibenarkan oleh undang-undang. Saya sendiri tidak mengerti, mereka melakukan hal itu karena belum mengerti kompetensi mereka sendiri atau ada sebab-sebab lain. Meskipun mungkin praktek tersebut juga tidak terang-terangan, tapi seperti inilah kenyataannya."

Bagaimanapun juga, saya sampaikan terima kasih banyak atas komentar, saran, dan kritik yang anda sampaikan. Karena bagaimanapun saya juga seorang manusia yang terkadang melakukan kesalahan.

Anonim mengatakan...

Subhanallah, Allahu Ya 'Alim
Menyebarkan informasi yang positif lebih baik dari pada menyebarkan aib orang lain
lebih baik memberi solusi dari pada hanya memberi kritikan
Apalagi yang bersifat subyektif seperti itu
Tidak enak dibaca, apalagi diresapi

Melaporkan pelanggaran seseorang terhadap suatu aturan itu sudah ada tempatnya, bukan di media seperti ini

Untuk dr.Reza yang terhormat mungkin saya punya usul untuk sampean, silahkan masuk dalam organisasi penjaminan mutu untuk pelayanan kesehatan, di situ sampean lebih maksimal untuk mengoreksi teman2 sejawat.

Riza Paramayudha mengatakan...

Loh, apabila saya sebagai orang awam melihat adanya penyimpangan, apakah saya tidak berhak mengungkapkannya? Dengan kata lain bila ada penyimpangan, sebaiknya tidak perlu diungkap karena itu aib orang lain? Lebih baik tutup mulut. Begitu?
Bisa hancur bangsa ini kalau setiap penyimpangan dibiarkan terjadi, bahkan membuka fakta saja dibilang menyebarkan aib. Saya hanya takut, penyimpangan ini menjadi sebuah "kewajaran" sepertinya halnya penyakit korupsi yang sepertinya sudah menjadi "kewajaran" di negeri ini.

Semoga KPK tidak disebut penyebar aib para koruptor ya.. Amin.

Kalo tulisan saya bersifat subyektif, bisa tolong ditunjukkan dimana letak kesubyektifan itu? Saya mengemukakan argumen bukan hanya berdasarkan pikiran saya pribadi, melainkan berdasarkan undang-undang yang mengatur sejauh mana kewenangan seorang bidan. Apakah dengan menunjukkan undang-undang tersebut saya masih subjektif?

Tidak enak dibaca mungkin bagi orang yang merasa melakukan penyimpangan itu. Bila yang membaca tidak merasa melakukan penyimpangan, mengapa harus merasa tidak enak? Bahkan tulisan saya bisa jadi membuka wawasan bagi orang yang belum tahu mengenai masalah ini.

Saya ini bukan dokter. Saya memang tidak mungkin / sepertinya sulit masuk ke organisasi penjaminan mutu pelayanan kesehatan mengingat background saya dari teknik. Justru itu saya menulis ini, memberi wacana dengan fakta yang ada, syukur-syukur ada orang dari organisasi penjaminan mutu yang membaca, kemudian mengkaji, kemudian melakukan langkah-langkah tertentu untuk menghentikan penyimpangan yang terjadi.

Niat saya memang tidak serta merta untuk melaporkan, karena kasus ini bukan hanya terjadi pada satu oknum, melainkan cukup banyak oknum. Dan bisa jadi mereka tidak merasa salah, sekali lagi karena hal ini sepertinya sudah menjadi "kewajaran". Membawa ke ranah hukum sepertinya bukan hal yang mudah. Justru pertanyaan saya, bila memang ini sebuah kesalahan, kok saya tidak pernah mendengar berita adanya seseorang yang meluruskan masalah ini? dalam hal ini tentu para penegak hukum yang berwenang. Dan apakah para penegak hukum baru menegakkan hukum setelah ada laporan dari warga? Padahal penyimpangan ini sepertinya terjadi dimana-mana dan sudah lama. Seharusnya mereka yang lebih mengerti hukumlah yang berperan aktif untuk meluruskan penyimpangan yang terjadi.

Lalu, saya putuskan menulis di blog, justru dengan maksud untuk mengedukasi orang lain, untuk memahami perbedaan kompetensi antara dokter dengan bidan. Setidaknya hal ini yang bisa saya lakukan untuk menyelamatkan orang lain yang mungkin belum tahu mengenai masalah ini dan tidak terjebak dalam penyimpangan yang sepertinya telah menjadi "kewajaran".

Subhanallah, Wallahu a'lam.

Anonim mengatakan...

waduh apa mungkin mas pernah di tolak seorang bidan kah, sampai seginya lho buat blog. laen kali maz buat blog dipikir dulu yaa,, bener gak kata2 yg dibuat, sesuai fakta kah klo hanya menurut anda sendiri yg jelaskan aja ini menurut saya tapi anda harus inget semua agama mengajarkan untuk berbagi kebaikan paling tidak berkata-kata lah yg sopan dan santun tanpa menyingung perasaan orang lain. s1 bidan negeri pun udah lama ada di universitas airlangga surabaya. dan masih bnyak sekolah negerinya lainnya seperti s1 bidan di brawijaya malang. saya tak perlu banyak comentar mengenai blog anda hanya saya ingin kan lain kali buat lah blog yg BERMANFAAT UNTUK SEMUA ORANG, yg akan merasa nyaman dan berterima kasih setelah membaca blog anda bukan malah sebaliknya.

Riza Paramayudha mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh penulis.
Riza Paramayudha mengatakan...

Kan sudah saya bilang, saya menulis ini karena melihat kenyataan dimana tidak jarang ada oknum bidan yang bekerja diluar kompetensi yang dimilikinya dan memberikan jasa layaknya dokter.

Haha, sekarang saya dibilang punya motif menulis post ini gara-gara ditolak bidan...
Nanti jangan-jangan ada yang bilang saya menuliskan ini karena saya gagal jadi bidan gara-gara saya laki-laki.

Saya jelaskan ya, yang memulai membahas tentang bidan D3 ataupun S1 itu orang lain yang berkomentar disini. Beliau merasa tidak adil karena bidan hanya D3. Nah, saya coba beri pendapat saya kenapa bidan itu D3. Perkara ternyata ada bidan S1, ya mohon maaf kalau saya tidak tahu karena disini banyak sekali akbid dan lulusannya D3 semua. Dan justru komentar anda mengenai adanya bidan yang S1 di UNAIR menjawab kerisauan orang yang berkomentar tadi.

Tapi ngomong-ngomong, meskipun bidan tersebut S1, tetap saja bukan kompetensinya untuk mengobati berbagai macam penyakit layaknya dokter bukan? Karena inilah inti masalah yang saya angkat di posting saya ini.

Disini saya memang terbuka untuk diskusi. Saya juga sebisa mungkin memberikan fakta-fakta yang ada. Bila anda merasa ada fakta yang saya paparkan disini yang salah, mohon ditunjukkan di bagian mana fakta yang salah, dan beri argumen anda mengenai fakta yang menurut anda benar. Bila fakta yang saya paparkan terbukti salah, saya tidak akan malu untuk meralat tulisan saya kok.

Begitu juga bila menurut anda tidak sopan, di bagian mana yang masih tidak sopan, biar saya perhalus kata-katanya.

Anonim mengatakan...

Ada bidan baik n bidan buruk
Ada dokter baik n dokter buruk
Ada perawat baik n perawat buruk
(Itu sudah sunatullah,kyak siang n malam)
Tergantung qt mau jd yang baik n yg buruk

Tulisan Calon Insinyur Riza(biar gak pd slh lg) sbnrny peljrn bg tenaga kesehatan buat belajar lbh banyak lg.biar bljr peraturan/undang2 (agar bsa ati2).undang2 kesehatan,kedokteran,rmh sakit dibuuat untuk kebaikan pasien.

Tujuan mengobati ap sih?untuk kesehatan n kesembuhan pasien.Kl bidan yg BAIK dia tahu sampai sejauh mana kompetensinya dia PASTI tdk akan macam2,krn dia memikirkan keselamatn n kesehatan pasien.

Anonim mengatakan...

Saya perawat,, ikut komentar ya.
Kalau meman9 semua yan9 dipelajari di pendidikan untuk menjadi hal yan9 bisa dilakukan itu semua akan tidak adil untuk semuanya. Karna sebenarnya ada batas2 yan9 tidak boleh dilakukan.
Di Keperawatan kita mempelajari ba9aimana cara menolon9 persalinan, farmakolo9i, dia9nosis penyakit dan 9ajala2, pemeriksaan fisik head to toe dan dia9nosis keperawatan sampai tindak lanjutnya. Lalu adilkah kalau perawat
boleh menolon9 persalinan
boleh mendia9nosis penyakit
boleh memberikan obat...???
Mun9kin itu diijinkan, cuma karna suatu keadaan tertentu, sudah penya perijinan, misal di pedalaman y9 9a ada bidan, 9a ada dokter.
kalau perawat menolon9 persalinan tentu bidan tidak terima, karna itu profesi dia, meskipun perawat memiliki kompetensi untuk itu.
kalau perawat mendia9nosis penyakit dan memberikan obat tentu ju9a dokter tidak terima, meskipun kita diajarkan...
tapi berusaha untuk bekerja di ranah dan kewajiban kita itu sebenarnya yan9 terbaik, tau batasan2 antar profesi.

misal cerita dosen saya di RS tu, perawat ada 24 jam bersama pasien, melakukan pemeriksaan fisik, tentu yan9 tau 24 jam keadaan pasien adalah perawat, Jika suatu saat misal saja pasien men9alami distensi kandun9 kemih, walaupun perawat tau penan9anannya den9an dipasan9 cateter untuk pipis tapi kita tidak bs melakukan tanpa advice dan resep dokter.
Jadi, perawat kalau dokter berkunjun9 menjelaskan dan menyarankan "dok pasien dokter men9alami distensi kandun9 kemih, ba9aimana kalau dipasan9 kateter?", lalu dokter melakukan pemeriksaan abdomen...
dan ternyata benar terjadi distensi, baru diperbolehkan oleh dokter. dan perawat dapat melakukannya.

ya kalau untuk bidan selama benar yan9 dilakukan sesuai aturan2 pemerintah, di tempatkan di pedalaman / di desa y9 dokter saja tidak ada/ kualahan, mun9kin sah2 aja. Tapi keadaan di desa saya itu bidan meman9 muncul duluan didesa sy dr pd dokter, be9itu dokter muncul di desa, tin99al di desa , dan memberikan pelayanan y9 maksimal,ya mun9kin ini sekitar 60% sudah berobatnya ke dokter.

Harapan saya sih semua bisa men9har9ai kode etik masin9" PROFESI. Menciptakan indonesia y9 sehat dan sejahtera.

Riza Paramayudha mengatakan...

Saya setuju sekali dengan komentar perawat di atas. Intinya memang semua harus memahami dan menghargai betul kode etik masing-masing, dengan begitu insya Allah dapat membawa manfaat sebesar-besarnya untuk masyarakat.

Anonim mengatakan...

Saya perawat, saya mu ikut komen ya...untuk mbk bidan, bener kata mas riza, sy prnah baca di transkrip nilAi teman sy yg bidan, memang disana bidan tdk diajarkn mengenai ilmu pnykt dlm, peny jantung, dll. Klopun mbk bidan ini diajarkn ilmu pnyakit pasti yg ada hubungannya dengan kehamilan patolOgis.

richa novyana mengatakan...

maaf sebelumnya yah..bisa saya clearkan sedikit..pada dasarnya kami bidan kurang dibekali ilmu obat2 tan sewaktu kuliah d3.tp harus anda ketahui..bahwa bidan yg di tempatkan di desa di bekali buku yg berisi pengobatan dan obat2 yang bisa digunakan beserta dosisnya.kemudian mereka tidak asal turun ke desa.mereka di tempatkan di rumah sakit terlebih dahulu.dan sy minta tolong ditilik kembali bidan di desa anda itu bisa jadi sewakti sma dy mengikuti jenjang farmasi.sy sangay memaklumi apa yg anda posting di atas.krn sy merasa pengetahuan anda masih kurang tentang alur profesi kami..terima kasih sebelumnya.topiknya sangat bermanfaat.

Riza Paramayudha mengatakan...

Terima kasih sebelumnya bila menurut anda topik ini sangat bermanfaat. Dan tentu dari komentar anda, semakin banyak bahan diskusi yang ingin saya sampaikan. Karena memang banyak yang ingin saya ketahui lebih jauh.

1. Bidan yang ditempatkan di desa. Ini program dari pemerintah ya? Kalau boleh tahu nama programnya apa? Program resmi dari menteri kesehatan? Apakah ini berlaku untuk semua wilayah di Indonesia? Lalu desa dengan kategori seperti apa yang dituju? Apakah semua desa? Atau desa terpencil dimana akses untuk berobat ke dokter menjadi sangat sulit? Dikirim ke desa tersebut untuk menetap atau hanya sementara? Kemudian bila suatu saat di desa tersebut sudah ada dokter, apakah program tersebut masih dijalankan di desa itu?

2. Buku yang diberikan berjudul apa, penulisnya siapa, dan penerbitnya apa? Siapa tahu saya bisa mencarinya di toko buku untuk kemudian saya coba bertanya ke orang yang lebih memahami dalam ilmu pengobatan medis. Apakah dalam buku itu benar-benar lengkap meliputi semua yang dipelajari dokter ataukah hanya bersifat pertolongan pertama pada beberapa penyakit?

3. Saat sebelum bidan ditempatkan di desa, anda katakan bahwa bidan sudah terlebih dahulu ditempatkan di rumah sakit. Apakah di rumah sakit bidan menggantikan peran dokter disana? Ataukah hanya melakukan praktek kebidanan? Apakah dengan penempatan di rumah sakit menjadikan bidan memiliki kompetensi untuk mengobati?

Sedikit info dari saya, desa tempat tinggal saya saat ini dapat dikatakan tidak lagi terpencil. Jumlah dokter sudah bertambah banyak. Andaikan alasan biaya, di tempat tinggal saya periksa ke puskesmas gratis. Akses ke puskesmas juga relatif mudah. Kemudian saya ingin bertanya pada anda, untuk desa seperti tempat tinggal saya, apakah menurut anda bidan masih memiliki hak untuk memberikan jasa pengobatan pada pasien seperti halnya dokter? Apakah desa saya tetap menjadi salah satu target penempatan bidan ke desa?

Dan tambahan lagi dari saya, saya sangat mendukung bila program penempatan bidan di desa dilakukan di desa yang terpencil, dimana akses pengobatan sangat lah sulit. Hal seperti ini pernah ditampilkan di televisi dimana ada seorang bidan yang rela berkeliling menggunakan perahu kecil untuk mengunjungi pulau-pulau terpencil, dia memberikan jasa pengobatan disana karena kepada siapa lagi pasien harus berobat. Tentu pada kasus semacam itu, bidan itulah yang paling banyak tahu mengenai ilmu medis dan saya rasa justru menjadi sebuah kewajiban untuk berupaya sebisa mungkin mengobati pasien-pasien itu.

Mohon maaf begitu banyak pertanyaan yang saya ajukan, karena saya ingin tahu lebih jauh lagi alur profesi bidan. Saya sangat mengucapkan terima kasih apabila anda berkenan untuk berdiskusi lebih jauh dalam topik ini.

Anonim mengatakan...

Bidan Tak Berwenang Berikan Obat Pada Pasien
Ema Nur Arifah - detikNews

Bandung - Selama ini, beberapa bidan atau perawat suka bertindak layaknya seorang dokter dengan memberikan resep obat pada pasien. Padahal bidan atau perawat tidak memiliki kewenangan untuk memberikan resep obat kepada pasien. Karena mereka tidak memiliki dasar ilmu untuk melakukan tindakan pemberian obat tersebut.

Hal itu disampaikan Ketua PDKI (Perhimpunan Dokter Keluarga Indonesia), Sugito Wonodirekso dalam media brief Family Day, di GOR Saparua, Minggu (16/3/2008). "Bidan atau perawat tidak boleh memberikan obat pada pasien jika tidak dibawah pengawasan dokter," ungkap Sugito.

Menurut Sugito, yang memiliki kewenangan untuk memberikan resep obat pada pasien adalah dokter, karena dokter memiliki dasar keilmuan untuk melakukan itu.

Sugito mencontohkan dalam kasus pemberian antibiotik. Jika bidan memberikan antibiotik kurang dari yang seharusnya maka akan mengakibatkan kekebalan kuman terhadap antibiotik. Untuk mengatasinya, pasien malah harus membeli antibiotik yang harganya lebih mahal.

Menurut Sugito, Bidan memiliki kewenangan dalam memberikan informasi seputar persalinan. Namun untuk obat-obat tertentu merupakan kewenangan dokter. Bahkan, jika dalam pemeriksaan persalinan ternyata ada kelainan, bidan harus segera merujuk pasien ke dokter. "Kalau ada masyarakat menemukan bidan seperti ini, segera laporkan," tegasnya.

Sugito mengaku, PDKI tidak memiliki kewenangan untuk mengatasi hal tersebut. "Kami tidak berdaya, karena kewenangan melayani ada pada mereka," jelas Sugito. Pernyataan ini, lanjutnya, tidak bermaksud untuk mendeskreditkan siapapun, baik itu bidan atau perawat. Namun PDKI akan terus berupaya meningkatkan kinerja.
http://news.detik.com/bandung/read/2008/03/16/130445/909012/486/bidan-tak-berwenang-berikan-obat-pada-pasien

Sebenarnya dalam dunia kesehatan yang ada cuma CARE dan CURE
care dilakukan perawat sedang cure oleh dokter
lha bidan ini di ranah mana? abu abu?
Perawat tidak mau melakukan tindakan invasif atau medis layaknya dokter perawat tugasnya merawat namun dari segi keilmuan tentang penyakit fisiologi sampai patofisiologi mumpuni namun mereka berbesar hati tidak mau memberikan tindakan CURE atau pengobatan medis
Lha yang jadi masalah Bidan yang praktek klinik cuma di kamar bersalin mau mengobati bagaikan internist, apakah mereka pernah praktek klinik di bangsal dewasa seperti ICi, CVCU, UGD. Kalo tidak punya dasar keilmuan harap legowo

Poskan Komentar

Saya sangat mengharapkan kritik, saran, atau opini anda... Terima Kasih...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Premium Wordpress Themes